PWNU Jatim Kantongi Tiga Wilayah Basis ISIS

PWNU Jatim Kantongi Tiga Wilayah Basis ISIS
foto:theaustralian

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur mengaku telah mengantongi tiga wilayah yang diduga sebagai basis Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS).

Sekertaris PWNU Jatim Achmad Muzakki mengungkapkan tiga wilayah tersebut yakni Malang Raya, Ngawi, dan Paciran Lamongan. “Saat ini jaringan tokoh Islam radikal di tiga wilayah tersebut menjadi simpul berkembangnya ISIS. Malang Raya, misalnya, adalah tempat bersinggahnya Mohammad Jibril, tokoh ISIS Indonesia. Sedangkan Ngawi adalah wilayah terdekat dengan pusat Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Baasyir,” terangnya.

Sementara Paciran, Lamongan dipilih karena posisinya yang strategis. Memudahkan jaringan ISIS bermigrasi ke pulau lain. Di sisi lain ISIS juga berkembang di beberapa daerah lain seperti pesisir Jawa Barat, Ciamis dan di daerah bekas konflik, seperti Poso.

“Khusus untuk Jawa Barat dan Poso, Makassar karena memiliki sejarah kerawanan. Kelompok Darul Islam pernah berkembang di dua tempat ini pada era 50-an,” ingatnya.

Muzakki menilai, proses perekrutan ISIS sangat kuat sekali. Dia juga telah mengantongi beberapa tokoh di Poso yang siap mendeklarasikan kebangkitannya.

“Bahkan mereka juga punya tim kontra intelijen. Karena itu, pemerintah jangan hanya mengandalkan intelijen. Pemerintah harus melibatkan ormas besar seperti NU dan Muhammadiyah untuk membentengi masyarakat,” harapnya.

Lebih lanjut, Rois Syuriah PWNU Jatim, Miftachul Ahyar meminta pemerintah segera bertindak lebih tegas. Pihaknya bahkan memintah pemerintah segera mengaktifkan kembali peran babinkamtibmas di tengah-tengah masyarakat.

“Beberapa waktu yang lalu, kami bersama ormas islam lain telah melakukan kerjasama dengan pemerintah untuk mengambil sikap taktis. Di antaranya keputusannya untuk membuat peraturan gubernur yang melarang ISIS masuk Jawa Timur,” bebernya.

Namun demikian, peran masyarakat secara langsung harus dilibatkan dengan kembali mengaktifkan program keamaanan di tiap desa. “Agar masyarakat dapat membentengi diri dari bujuk rayu mereka. Jangan sampai ada keluarga lagi yang menjadi korban, bergabung dengan kelompok mereka dan mengembangkan ideologi Islam radikal,” jelasnya. (wh)