Putu Sulistiani, Pelestari Batik Surabaya

Putu Sulistiani, Pelestari Batik Surabaya

Hj Putu Sulistiani Prabowo tak pernah lelah menggali motif baru batik sebagai warisan nusantara. Foto: sandhi nurhartanto/enciety.co

Bukan sekadar melakoni usaha. Itulah kalimat yang diucapkan Hj Putu Sulistiani Prabowo, owner Batik Surabaya Dewi Saraswati. Perempuan kelahiran Singaraja Bali tahun 1957 tersebut, mengaku serius menekuni bisnis batik karena ingin melestarikan kebudayaan Indonesia.

“Membuat batik itu bukan sebuah pekerjaan bagi saya. Namun itu adalah hobi dan saya menikmatinya walau kadang sampai malam harus begadang karena ada ide untuk membuat motif baru batik,” kata Putu, panggilan akrabnya, saat ditemui enciety.co di rumahnya, Jalan Jemursari Utara II, Surabaya.

Putu awalnya bekerja di pabrik kosmetik selama 16 tahun. Namun tak bertahan lama. Ia kemudian memilih mengundurkan diri. Lepas dari pekerjaan rutin, ia pun memberanikan diri untuk membuka usaha batik.

Putu mengumpulkan tukang batik dari beberapa daerah di Jawa Timur. Mereka diajak bergabung untuk membuat batik yang memiliki kekhasan dan keunikan.  Kemudian tercetus ide untuk membuat Batik Surabaya. Coraknya yang ditonjolkan yang menjadi ikon Surabaya, di antaranya ayam Sawunggaling, semanggi, ayam bekisar, dan masih banyak lagi.

Kini, wanita lulusan S1 Farmasi Universitas Airlangga tersebut mencoba batik yang bertemakan kontemporer dan abstrak. Menurutnya, ide tersebut muncul melihat banyak anak muda yang masih enggan untuk memakai batik dalam busana sehari-harinya.

“Sampai sekarang saya masih setia untuk membuat motif batik yang bertemakan alam atau flora dan fauna saja,” ujar nenek bercucu dua ini.

Batik saraswati 3 Batik saraswati

Pengakuan ibu dua anak ini, sebaiknya baik bagi pengusaha maupun pelaku batik harus sering-sering untuk melakukan studi banding di berbagai kota Indonesia. Karena dengan sering mengunjungi daerah, maka ide motif batik akan bertambah banyak.

Selain itu, dengan melakukan studi banding di berbagai daerah, menurutnya akan diketahui apakah motif batik sudah tertinggal jaman ataukah bisa dikembangkang lagi. Ia menyebutkan misalnya batik di Madura terlihat bagus dan yang kurang berkembang adalah batik dari Kabupaten Sidoarjo.

“Desain dan motif di tempat ini tidak berkembang. Sebaiknya menyiasati untuk pikat konsumen, pengusaha batik harus inovatif. Ibarat gadis harus berhias diri untuk terlihat cantik agar dilirik. Baik inovatif dari design maupun warna,” jlentreh pengusaha yang kini membawahi 45 perajin batik itu.

Selain itu, Putu meminta agar para pengusaha batik untuk tidak malu dan segan-segan melakukan pemasaran baik secara getok tular maupun pameran. Dengan banyak usaha pameran dan bertemu dengan orang ini diharapkan dapat membangun network di semua lini. Bahkan, dirinya mengatakan pangsa pasar terbesar pemasaran batik adalah ikut komunitas ibu-ibu.

“Setiap pameran bawalah kartu nama sebanyak-banyaknya agar dibagikan kepada setiap pengunjung. Buktinya pelanggan batik saya yang dari Canberra dan Swiss kenal sewaktu datang ke salah satu pameran,” tutur istri Edi Budi Prabowo tersebut.

Dengan omzet mencapai Rp 150-200 juta sebulan tersebut, Putu kini mengaku  mampu membayar ke pembatiknya dengan upah Rp 3 juta sebulan. Pendapatan tersebut membuat Putu juga menerima pegawai dari lingkungan sekitar rumahnya untuk turut bekerja kepadanya.

“Yang termuda pegawai saya baru lulus SMK tata busana. Untuk pembatik kesemuanya saya ambil dari Tulungagung,” pungkas dia. (wh)