Pupuk Bersubsidi Tidak Langka, Hanya Alokasinya Dibatasi

Pupuk Bersubsidi Tidak Langka, Hanya Alokasinya Dibatasi

Yusuf Wibisono (dua dari kiri) dan Kresnayana Yahya di Radi Suara Surabaya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Alokasi pupuk bersubsidi diharapkan dapat tepat sasaran sehingga tidak disalahgunakan. Namun alokasi pupuk dan modal usaha bagi petani dengan lahan di bawah 0,3 hektar harus bersinergi dengan asosiasi semacam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Ini  dimaksudkan agar petani dapat membeli pupuk bersubsidi yang dijamin pemerintah.

“Intinya supaya bisa balik modal, petani harus bersinergi. Sama-sama kena, program pemerintah juga berjalan dan petani bisa untung,” ujar Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (4/10/2019).

Layanan pangan ini, sambung Kresnayana, tidak akan menyengsarakan petani. Jika dihitung, petani harus dapat menjual gabah di atas Rp 5 ribu per kilogram. Dengan begitu, petani bisa mendapatkan keuntungan.

“Jika harga gabah kurang dari Rp 4 ribu per kilogram, petani akan rugi. Hal inilah yang saat ini sedang diusahakan Pemerintah untuk bisa menyejahterakan petani,” tegas pria mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Selain itu, Kresnayana berharap agar petani dapat mengembangkan standardisasi mutu di tiap desa. Salah satunya dengan memiliki alat ukur kadar keasaman dan kualitas tanah di daerah tersebut.

“Hal ini sangat penting untuk dapat mempertahankan kualitas produksi. Contohnya, jika tanah itu diukur dan hasilnya kadar organiknya rendah, petani butuh pupuk organik yang dapat meningkatkan kualitas tanah. Hal-hal inilah yang harus dicermati petani dan pemerintah,” papar Kresnayana.

Sekretaris Perusahaan PT Petrokimia Gresik Yusuf Wibisono mengatakan, keberadaan pupuk bersubsidi saat ini tidak ada kelangkaan. Hanya alokasinya yang dibatasi.

Kata dia, memasuki November dan Desember, petani dihadapkan pada musim tanam. “Keberadaan pupuk saaat ini sangat berlimpah. Hanya saja alokasinya dibatasi. Hal ini dilakukan supaya alokasinya bisa lebih tepat sasaran sehingga tidak ada lagi penimbunan dan lain sebagainya. Untuk itu, petani dapat bersinergi dengan program pemerintah supaya dapat lebih sejahtera,” terangnya . (wh)

Berikan komentar disini