PTPN XII Sulit Kontrol Harga Teh

 

PTPN XII Sulit Kontrol Harga Teh

PT Perkebunan Nusantara (PTPN XII) mulai melakuklan konversi sejumlah komoditi produksinya. Mulai tahun lalu, lahan teh seluas 17.000 hektar dikurangi sekitar 10 hektar untuk dikonversi ke kopi Arabica di kebuh teh Lawang, Kabupaten Malang.

Konversi ini tidak lepas dari sulitnya kontrol harga teh di pasar sekaligus untuk peningkatan revenue perusahaan. Kopi jenis Arabica saat ini tengah digandrungi pasar global maupun domestik, karena cita rasa dan harganya cenderung naik.

Corporate Secretary PTPN XII Herry Purwanto mengakui produksi teh dalam sepuluh tahun terakhir ini kurang menjanjikan. Hal ini yang mendorong perusahaan agro industri plat merah ini melakukan serangkaian konversi dari satu komoditi ke komoditi lainnya.

“Kita sedang menjajal konversi dari teh ke Arabica di kebun teh di Wonosari, Lawang. Konversi ini untuk melihat apakah, hasil konversi ini sama dengan jenis Java Arabica yang kita tanam di Gunung Ijen, Banyuwangi,” urainya.

Sebagai catatan,Java Arabica merupakan satu-satunya jenis kopi di dunia yang ada di Indonesia dan hanya dimiliki PTPN XII. Konversi ini tidak lepas dari sulitnya mengontrol harga teh di pasaran.

Selain itu, proses produksi teh saat ini mulai kesulitan menggaet tenaga kerja pada musim panen. “Kendala yang kerap kita hadapi pekerja petik teh mulai melirik bekerja di pabrik, daripada bekerja di kebun atau sawah,” ungkap lanjut Herry.

Saat ini, PTPN XII sudah mulai kesulitan mendapatkan pekerja petik teh, meski memberi upah sesuai dengan UMK. Pekerja petik teh diakui jauh lebih baik dibanding menggunakan mesin pemanen. Lantaran menggunakan mesin, banyak bercampur dengan daun yang tidak penting termasuk tangkai.

Sebagai bahan perbandingan, kontribusi teh terhadap perushaaan sekitar 1 persen, sedangkan Arabica mencapai 6,5 persen. “Persoalannya bukan karena teh tidak ada kontribusi. Teh tetap kita pertahankan, hanya beberapa beban produksi yang akan kita kurangi agar efisien,” tegas Herry.

Dengan luas lahan teh mencapai 17.000 hektar, sementara proyeksi produksi tahun ini sekitar 2.575 ton, dan kontribusinya hanya sekitar 1 persen dianggap kurang memadai. Sedangkan Arabica memiliki luas lahan sekitar 5.550 hektar mampu memberi kontribusi 6,5 persen.

“Konversi ini akan kita pantau, apakah cita rasa Java Arabica di Lawang sama dengan di Gungun Ijen. Sebab, cita rasa kopi bila cocok di kawasan tertentu, belum tentu cocok ditanam di dareah lain,” tutup Herry. (wh)