PTPN X Target Penuhi Sertifikasi II PG hingga Juni

PTPN X Target Penuhi Sertifikasi II PG hingga Juni

Rencana Pemprov Jatim untuk menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi pabrik gula (PG) di Jatim direspons PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X. Jelang memasuki musim giling tebu akhir Mei hingga Juni mendatang, perusahaan plat merah itu menargetkan dapat memenuhi sertifikasi SNI bagi 11 PG yang dikelolanya.

“Jelang musim giling, kami mempersiapkan 11 PG yang ada di Jawa Timur dengan berbagai upaya. Salah satunya adalah penerapan pengendali mutu bahan baku, sehingga produksi kita harus bisa memenuhi SNI,” kata Kepala Divisi Quality Control PTPN X Miftakhul Munir, Jumat (15/5/2015).

Menurutnya, produksi bagus akan sangat  sulit dicapai kalau bahan bakunya tidak bagus. Contoh bahan baku yang tidak bagus adalah tebu terbakar, tebu layu ataupun tebu yang belum matang. Untuk itu, lanjutnya, direksi akan memberlakukan pengendali mutu bahan baku yang dimulai pada musim giling tahun ini.

Munir menambahkan, dengan menerapkan sistem pengendali mutu bahan baku, maka setiap bahan baku yang masuk ke dalam pabrik akan diketahui kualitasnya. Hal ini tidak lain agar gula kristal putih yang dihasilkan sesuai dengan SNI dan efisiensi yang tengah gencar dilakukan semua pabrik gula bisa terlaksana dengan baik.

Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Moch Samsul Arifien mengatakan, dengan standar SNI maka diharapkan dapat menghasilkan gula premium dengan kualitas yang tinggi. Penerapannya dimulai bulan Juni saat giling tebu berlangsung di seluruh PG di Jatim. Pemberlakuan SNI hanya diperuntukkan bagi PG bukan untuk petani.

Guna menunjang pemberlakuan SNI, kata dia, maka akan diterapkan sistem ICUMSA (International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis). ICUMSA atau tingkat kemurnian gula yang berkaitan dengan warna gula bagi gula kristal putih (GKP) Jatim juga telah ditentukan standar nilainya.

Untuk ICUMSA dengan nilai 80-180 diberlakukan bagi GKP kualitas satu. Sedangkan nilai 180-300 diberlakukan bagi GKP kualitas dua. Seperti diketahui, semakin rendah nilai ICUMSA maka tingkat kemurnian gula semakin bagus dan warna semakin putih.

Selama ini, kata Samsul, standar ICUMSA telah dilakukan di PG Semboro, Kab Jember yang menghasilkan GKP dengan nama Gulapas. “Gulapas salah satu contoh gula yang masuk kategori premium. Lebih bersih dan harganya juga lebih mahal bisa mencapai Rp 10-11 ribu per kg,” katanya.

Jika PG bisa memproduksi gula sesuai SNI dan ICUMSA yang rendah, katanya, maka GKP Jatim bisa lebih memiliki daya saing. Hal ini dikarenakan gula premium punya pasar tersendiri dan lebih diminati masyarakat.

Ditambahkannya, dengan sertifikasi SNI kualitas gula dalam negeri akan sama dengan standar internasional. Manfaatnya, perkembangan pasar negara tidak terisolasi dari perkembangan pasar global dan memperlancar perdagangan internasional. Selain itu, barang-barang hasil produksi tersebut juga untuk meningkatkan daya saing perekonomian nasional. (kmf/wh)