PT Santori Bantah Datangkan Sapi Impor ke Jatim

 

PT Santori Bantah Datangkan Sapi Impor ke Jatim

Meski Dinas Peternakan (Disnak) Jatim terus saja mengelak jika pihaknya mendatangkan sapi potong impor asal Australia, tapi bukti berkata lain. Seperti yang terlihat di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Kedurus dan Pegirian Surabaya ternyata memiliki alat pemotong sapi khusus dari Australia, stunning (pemingsanan) sapi impor.

Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jatim Muthowif mengungkapkan, sejak awal Juli lalu, RPH Kedurus telah memiliki stunning sapi impor. Alat tersebut digunakan untuk memotong sapi impor yang biasa didatangkan via transit Lampung.

“Kalau tidak ada sapi impor masuk Jatim, lalu buat apa ada alat stunning sapi impor di RPH Kedurus dan Pegirian. Alat stunning itu didatangkan dari Australia karena sesuai SOP penyembelihan sapi Australia,” jelasnya kepada enciety.co, Rabu (1/10/2014).

Muthowif juga mengatakan, stunning itu berada di RPH Kedurus sejak awal bulan puasa lalu. Sedangkan alat stunning di RPH Pegirian diadakan sejak pasca Idul Fitri, beberapa bulan yang lalu.

”Sapi-sapi impor tersebut didatangkan oleh dua perusahaan penggemukan sapi PT Santori Agrindo berpusat di Probolinggo dan PT Agrisatwa yang berpusat di Malang,” terangnya.

Menurut Muthowif, saat ini sedikitnya ada 10 hingga 15 ekor sapi impor per hari yang dipotong di dua RPH Surabaya. Ini jauh lebih kecil dibanding jumlah pemotongan sapi impor pasca Idul Fitri beberapa bulan yang lalu, mencapai 20 hingga 25 ekor sapi impor per RPH.

“Sekarang sedikit yang dipotong, karena memang kebutuhan konsumsi daging Surabaya sedang sepi menjelang Idul Adha,” ujarnya.

Hal itu juga dibenarkan Kepala Bagian Pemotongan Hewan Kedurus, Martono kepada enciety.co yang menyebutkan setiap harinya ada sekitar 50 hingga 60 ekor sapi per ekor. Ini menurun jika dibandingkan dengan pada saat bulan Ramadhan lalu yang mencapai ratusan sapi. “Jumlah itu campuran dari sapi lokal dan impor,” cetusnya.

Di satu sisi, General Manager PT Santori Agrindo, Heri menampik jika pihaknya mendatangkan sapi impor potong untuk kebutuhan konsumsi daging di Jawa Timur. Menurutnya sapi-sapi yang didatangkan di sejumlah RPH di Surabaya itu adalah sapi kembang-biakan dari Probolinggo.

“Memang cara kami membiakan sapi secara liar di Probolinggo. Dan sapinya itu lahir di Jawa Timur, meski jenisnya bukan dari Jawa Timur jadi memang sapi kami tanpa tali di leher,” kilahnya.

Heri juga menampik jika pihaknya mendatangkan ribuan sapi dari Australia via transit Lampung. “Kami punya 3 ribu ekor sapi pada tahun ini. Semua itu bukan sapi impor, tapi sapi dari kembangbiakan kami sendiri,” kilahnya. (wh)