PT Pos Harus Bertansformasi Menggunakan Platform

PT Pos Harus Bertansformasi Menggunakan Platform

Kepala Kantor Pos Surabaya Jaka Sunara, Kepala Regional 7 Jawa Timur PT Pos Indonesia Arifin Muchlis, dan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (11/8/2017). Foto: arya wiraraja/enciety.co

Trasformasi di bidang teknologi sangat mempengaruhi perkembangan banyak perusahaan, terutama perusahaan penyedia jasa logistik. Kondisi ini menuntut perubahan dengan menghasilkan sebuah platform.

Hal itu ditegaskan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (11/8/2017).

“Mau tidak mau, para perusahaan penyedia jasa logistik di Indonesia musti bertransformasi dan bersaing menggunakan platform,” katanya. Acara tersebut juga dihadiri Kepala Kantor Pos Surabaya Jaka Sunara, dan Kepala Regional 7 Jawa Timur, PT Pos Indonesia Arifin Muchlis.,

Kresnayana lalu memaparkan, jika dapat bertransformasi dengan baik dan massif, sebenarnya PT Pos adalah instansi yang paling siap.

“PT Pos dapat lebih baik dari saat ini. Hal itu bukan isapan jempol belaka, mengingat PT Pos memiliki prasarana yang telah hidup selama puluhan tahun lamanya,” tegas dia.

Di samping itu, sambung Kresnayana, PT Pos juga memiliki kantor hingga menyentuh ke bagian paling kecil dari struktur lembaga di masyarakat, Yaitu di tinggat kecamatan dan kelurahan.

“Untuk itu, kami sangat yakin, jika PT Pos dapat bertransformasi dengan baik dan mampu memanfaatkan pengalamannya selama puluhan tahun, maka bakal berimbas besar pada perekonomian dalam negeri,” ujar pakar statistik ITS itu.

Lebih lanju, Kresnayana menjelaskan, saat ini rata-rata kurang lebih 20 persen dari harga produk dihabiskan untuk ongkos pengiriman. Jika dibandingkan dengan beberapa negara di luar negeri, ongkos pengiriman rata-rata hanya berkisar antara 7-12 persen.

Kata dia, jika akses logistik atau pengiriman dapat dijamin, secara otomatis nilai dari sebuah produk bakal lebih terjangkau. “Dengan harga produk secara tidak langsung hal tersebut dapat berimbas pada perbaikan pada kondisi perekonomian,” papar Kresnayana. (wh)