PSK Dolly: Saya Capek, Ingin Pulang

PSK Dolly: Saya Capek, Ingin Pulang

 

Tak selamanya manusia ingin hidup dalam kemaksiatan. Setidaknya, itulah yang tergambar dari ungkapan hati para Pekerja Seks Komersial (PSK) kawasan Dolly dan Jarak saat mengikuti pelatihan keterampilan membuat kue di Balai RW VI Kupang Gunung Timur, Rabu (2/4/2014).

Coretan tangan PSK yang mayoritas hanya lulusan SD dan SMP itu, mencurahkan keinginannya untuk pulang. Pulang menjadi manusia tanpa balutan nista. Mereka pun mengusung impian besar: menjadi orang sukses.

Coretan-coretan itu mengalir saat mereka ditanyai pendapatnya mengenai apa yang dia sukai dari dirinya, apa yang dia sukai dari lingkungannya, apa yang dia tak sukai dari lingkungannya, dan apa rencana masa depannya.

‘Saya ingin sukses dan jadi orangg baik’, ‘Capek pulang sukses’, ‘lebih baik dari kemarin’, ‘supaya lebih baik’, begitu tulisnya.

Sebelum menjalani pelatihan pastry, ke-32 perempuan tersebut diberikan soft therapy oleh tim Universitas Narotama. Dosen Fakultas Ekonomi I. G. A Aju Nitya Dharmani, SST, SE, MM menyebut metode yang ia gunakan sebagai detoksifikasi mindset dengan pendekatan komunikasi teraphetic dan ESAQ model.

“Metode ini mengajak mereka untuk memikirkan dan menyadari apa yang dia lakukan. Dalam hal ini, mereka diajak untuk menyadari perbuatan mereka,” jelasnya.

Intinya, Ani meminta mereka untuk mengenali diri sendiri lalu menuliskannya ke selembar kertas tanpa menyebut namanya. Ani juga berupaya menggugah rasa empati para PSK itu dengan menggunakan panggilan yang baik kepada sesama temannya. Sedikit demi sedikit, mereka menjadi terbuka.

Ani lantas menunjuk tulisan spanduk penolakan bernada kasar yang dibentangkan sepanjang gang Dolly dan beberapa ruas jalan di Putat Jaya. ‘Kami rela menanggung dosa kami’, dan sebagainya, adalah bukti bahwa mereka belum sadar. “Bunyi spanduk seperti itu menandakan, mereka belum menyadari sepenuhnya bahwa apa yang mereka lakukan itu buruk dan tidak benar,” ujarnya.

Maka, mendekati para PSK itu butuh kesabaran dan teknik komunikasi khusus. “Intinya mereka itu pengen diuwongke (dihargai sebagai orang penting, Red),” tegas Ani.

Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa pekerjaan mereka salah dan mereka ingin berubah. “Di lubuk hatinya itu mereka mengakui kalau mereka ingin berubah menjadi lebih baik. Sebab, mayoritas mereka juga menyebut bahwa lingkungan wismanya kotor. Mereka tidak nyaman,” pungkasnya.(wh)