Prospek Pariwsiata Surabaya sangat Menjanjikan

Prospek Pariwsiata Surabaya sangat Menjanjikan

Latif Dharmawan, Auditor PT Megah Tritunggal Mulia Certification, Ina Silas (General Manager House of Sampoerna) dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (12/5/2017). foto:arya wiraraja/enciety.co

Ekonomi Surabaya sangat berorientasi di sektor layanan (services economy), di mana gagasan tersebut tertuang dan diwujudkan lewat penyediaan jasa yang sifatnya sangat terintegrasi.

“Konsep services economy yang menjadi roh dari perekonomian Kota Pahlawan saat ini saling terhubung satu sama lain, tidak terkecuali bidang tourism,” kata Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (12/5/2017).

Kata dia, perekonomian Kota Surabaya kini sangat maju dalam bidang penyedia jasa. Yang perlu dicermati, dengan makin majunya perekonomian kota ini, maka juga sangat berpengaruh pada bidang-bidang perekonomian lain, di antaranya dalam bidang tourism.

Menurut Kresnayana, kurun 3-4 tahun belakangan ini, Surabaya telah berhasil menggelar berbagai event berkelas intenational. Hal itu merupakan salah satu tanda jika Surabaya kini sangat siapi menyambut kehadiran wisatawan mancanegara (wisman).

Kresnayana menambahkan, banyak hal yang menjadi poin penting ketika banyak orang mau menggelar event berkelas international di Surabaya. Di antaranya letak strategis dengan akses yang memadai, keramahan masyarakatnya, kenyamanan kota, dan fasilitas yang memadai.

“Lalu yang terpenting terjaminnya keamanan, sehingga banyak event besar dengan kelas International yang digelar sukses di Surabaya” tegas Kresnayana.

Di sisi lain, sambung pakar statistik ITS itu, dengan letak yang strategis dan jangkauan akses yang luas, Surabaya kini kini menjadi simpul penting dari perkembangan bidang tourism Jawa Timur.

“Hal tersebut ditandai pada akhir tahun 2016 lalu, ketika pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa Surabaya dapat menyentuh angka 11 persen,” tegas Kresnayana.

Selain dunia perekonomian, Kresnayana juga menyebut satu hal lagi yang dapat mendorong pertumbuhan tourism, yakni  Surabaya memiliki ikon yang unik. Perlu diketahui, Surabaya memiliki pelabuhan paling tua di Indonesia.

“Ikon-ikon bersejarah tersebutlah yang mendorong pertumbuhan dunia pariwisata kota ini,” papar dia.

Ina Silas, General Manager House of Sampoerna (HoS) yang hadir sebagai narasumber, menjelaskan jika saat ini pihaknya mencatat perkembangan sangat signifikan pada perkembangan minat dari masyarakat Kota Surabaya.

“Sejak berdiri tahun 2003, HoS mencatat perkembangan signifikan dari minat masyarakat Surabaya. Jika dahulu masyarakat Kota Surabaya tidak pernah memperhitungkan museum sebagai destinasi wisata, saat ini masyarakat Surabaya telah memperhitungkan dan mulai mencintai keberadaan museum sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi,” ungkap dia.

Menurut Ina, hal tersebut dapat dilihat dari peningkatan jumlah pengunjung yang hadir di HoS kurun waktu 3 tahun terakhir. Bukan hanya di HoS saja, peningkatan juga terjadi di Museum Tugu Pahlawan juga.

“Untuk di HoS, saban hari ada paling sedikit ada seribu orang yang berkunjung. Angka tersebut dapat meningkat pada saat akhir pekan,” bebebr dia.

Ina juga menjelaskan, unsur sejarah menjadi salah satu nilai lebih dan daya tarik bagi para wisatawan untuk berkunjung ke Surabaya. “Jika hal tersebut dapat dimaksimalkan, ke depan tidak mungkin kota ini dapat bertransformasi menjadi kota perdagangan dan pariwisata,” kupas Ina.

Latif Dharmawan, auditor PT Megah Tritunggal Mulia Certification, menjelaskan jika saat ini ada banyak pelaku usaha di Surabaya yang telah berumur lebih dari 100 tahun namun masih beroperasi.

“Banyak pelaku usaha atau pabrik yang usianya lebih dari 100 tahun namun saat ini masih bertahan dan beroperasi. Di antaranya pabrik gula, pabrik jamu, pabrik rokok yang saat ini telah direpresentasikan oleh HoS, dan lain sebagainya. Semua pelaku usaha ini menjadi ikon wisata di Surabaya,” tegas dia.

Menurut Latif, , semakin banyak jumlah wisatawan hadir di Surabaya, kebutuhan akan penginapan juga terus bertambah. Dengan makin dibutuhkannya jasa penginapan, semakin diperlukannya lembaga sertifikasi.

“Sertifikasi tersebut sangat diperlukan, karena sebagai kota yang mulai merancang menjadi Kota Pariwisata, secara otomatis keberadaan hotel atau penginapan perlu disertifikasi untuk menyediakan jasa penginapan yang sesuai dengan standart,” papar dia.

Dia lantas mencontohkan, ketika satu hotel membandrol harga Rp 500 ribu, maka hotel tersebut harus memberikan pelayanan atau fasilitas setara dengan harga tersebut.

“Hal ini bukan hanya berbicara masalah kenyamanan atau hak para konsumen. Namun, sertifikasi yang dilakukan tersebut juga berhubungan dengan hal yang lebih luas, yakni kepercayaan para wisatawan atau para konsumen yang berkunjung di kota tersebut,” ujar dia.

Dengan standardisasi hotel, ada berbagai keuntungan yang didapatkan. Pertama, terkait produk yang mereka berikan, mulai dari makanan, fasilitas hingga manajemen.

“Jika mereka telah dapat menyediakan pelayanan yang telah memenuhi standar, secara tidak langsung hal tersebut juga bakal berimbas pada kepercayaan para pelanggan. Secara otomatis hal tersebut juga bakal berefek pada peningkatan kualitas,” terang dia. (wh)