Prospek 2014: Tingkatkan Investasi, Perbaiki Layanan Publik

Prospek 2014: Tingkatkan Investasi, Perbaiki Layanan Publik

Perekonomian Indonesia memang belum bisa dikatakan stabil. Bank Indonesia memprediksi angka inflasi tahun 2014 mendatang berkisar 3,5-5,5 persen. Belum lagi bila ditambahkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang diperkirakan masih belum beranjak dari angka 12.000. Meskipun begitu, masih terdapat optimisme terhadap perbaikan perekonomian Indonesia.

Chairperson Enciety Business Consult, Kresnayana Yahya menilai, peningkatan investasi bisa meredam inflasi dan defisit transaksi berjalan. Sebab, makin banyaknya investasi yang masuk akan menambah devisa negara berupa dollar. Namun, hal tersebut akan membawa dua konsekuensi.

“Permasalahannya pertama adalah produktivitas ekspor kita masih terbatas. Sayangnya, yang diekspor masih barang-barang murahan,” paparnya. Dengan kata lain, added value dan nilai inovasi produknya belum tinggi. Padahal, Indonesia berhadapan dengan persaingan teknologi dan kinerja yang efisien.

Eksportir Indonesia pun kerap memarkir dollar-nya pasar luar negeri. Hal itu menjadi problem kedua yang menghantui.

Kresna menilai, keadaan tersebut bisa seharusnya tidak diperberat dengan bunga usaha yang mencapai 15 persen. “Mustinya eksportir dikasih insentif agar kinerjanya lebih baik,” ujarnya.

Begitu pula dengan pelayanan publik. Setahun menjelang ASEAN Economic Community (AEC) 2015, tuntutan bahasa, keteraturan manajemen, dan kepemimpinan yang baik dalam pelayanan publik kian tinggi. Para pelayan publik harus meningkatkan volume aktivitas. Sebab, kecepatan transaksi yang jauh lebih cepat, menjadi tuntutan.

Maka SDM Indonesia perlu dilatih melakukan transaksi online agar ekspor impor dilakukan berupa direct transaction. “Dengan begitu bisa mengurangi kebutuhan dolar cash kita,” ujarnya. Quick response dalam konteks layanan publik, kata Kresna, dibuat supaya masa tenggang transaksi makin cepat.

Untuk ini, pemerintah harus memberikan kebijakan yang realistis. “Kalau dibatasi dengan bunga yang tinggi, kita bisa kehilangan ooportunity,” tegasnya.

Kresnayana lantas menyarankan agar negara mengurangi sektor-sektor konsumtif seperti otomotif. “Mestinya mendorong food industry, serta mengurangi ketergantungan kepada asing dalam hal services. Sekitar 60 persen sektor services Indonesia juga masih impor,” tukasnya.