Proses Produksi Rumput Laut Masih Tradisional

 

Proses Produksi Rumput Laut Masih Tradisional

Proses produksi rumput laut di tingkat kelompok tani saat ini maish bersifat tradisonal.  Masalah ini mengemuka karena masih terkendala lemahnya teknologi. Berdasar catatan yang disampaikan Pemprov Jatim melalui Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim, hasil produksi sepanjang 2013 mencapai 588.324,9 ton, sedangkan data tahun ini hingga triwulan kedua tercatat 295.024,8 ton. “Kendala kami saat ini menyangkut teknologi pasca panen dan ancaman hama,” terang Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan, Heru Tjahyono kemarin di ruang kerjanya, (22/9/2014). Keterbatasan itu tidak lepas dari proses produksi yang dilakukan kelompok tani belum tersentuh oleh teknologi.

Heru menyebutkan teknologi yang diimplementasikan petani hanya menjemur dengan menggantung hasil panen rumput laut. Cara ini sudah dilakukan bertahun-tahun oleh industri rumput laut ditingkat petani sampai industri di Jatim.

Kendala pasca panen ini yang masih dicarikan terobosan guna memenuhi permintaan dari luar negeri yang terus mengalami peningkatan pertahunnya. “Seperti di China, kebutuhan rumput laut kering untuk bahan baku industri terus meningkat. Sementara kita kerap kewalahan baik dari sisi volume karena terkdnala masalah teknologi,” lanjut mantan Bupati Tulungagung itu.

Catatan ekspor rumput laut sepanjang 2013 di Jatim sebanyak 13.847 ton dari total produksi sepanjang 2013 yang mencapai, 588.324,9 ton. Sementara untuk total produksi rumput laut secara nasional mencapai 107,5 ton. Dimana pasar internasional terbesar Jatim adalah China, Chili, dan Italia.

Kepala Bidang Pemasaran dan Pengolahan Dinas Perikanan dan Kelautan, Totok Sudarmanto menyebutkan total produksi yang dihasilkan rumput laut Jatim setara dengan Rp271,1 juta. Mayoritas produksi maupun nilai masih berada di Sumenep, dengan total produksi 285.145 ton atau setara dengan Rp252.7 juta,” ungkapnya.

Volume maupun value tersebut masih bisa ditingkatkan karena Pemprov Jatim tengah berupaya melakukan pengembangan teknologi pasca panen yang masih rendah. “Metodenya masih dalam penelitian, dan nantinya akan kita sampaikan setelah selesai observasi,” tutupnya. Dinas Perikanan dan Kelautan optimistis, teknologi tersebut bisa mendorong produkstivitas 10-15 persen. (gtr)