Properti Residensial Jatim Akan Tetap Tumbuh

Properti Residensial Jatim Akan Tetap Tumbuh

Arifin Nazarudin, peneliti Enciety Business Consult

Prospek pasar properti di Jawa Timur diyakini masih cerah. Meski harga bahan baku bangunan naik, namun tak menyurutkan masyarakat untuk untuk mencari hunian idaman.

Dari data hasil survei Bank Indonesia bekerjasama dengan enciety Business Consult (eBC) untuk wilayah Jawa Timur hanya 10 persen saja untuk tipe besar yang terjual sampai akhir triwulan empat 2014, 52 persen untuk tipe menengah, dan 38 persen untuk tipe kecil.

Tampaknya, wacana pemerintah dengan menerbitkan kebijakan baru  terkait objek pemungutan Pajak penghasilan (PPh 22) terhadap transaksi barang yang tergolong mewah ataupun sangat mewah, ditanggapi banyak pengusaha real estate maupun pengembang perumahan. Pasalnya, kebijakan tersebut dirasakan akan memberatkan pencapaian target penjualan. Ini lantaran sebelumnya telah terbit kebijakan Bank Indonesia tentang LTV (Loan To Value) yang mengatur tentang pembayaran uang muka minimum sebesar 30 persen.

Bila dilihat dari sumbangan terbesar pertumbuhan properti, maka masih pertumbuhan tipe menengah dan kecil masih mendominasi. Oleh sebab itu, tak perlu terlalu dikhawatirkan dampak kebijakan tersebut bagi penyerapan pasar terhadap produk properti residensial, terutama kelas menengah kecil.

Fajar Haribowo, peneliti dari enciety Business Consult, optimistis jika sektor propeti akan masih tetap tumbuh meskipun akan mengalami sedikit penurunan. Ini menyusul wacana penerbitan kebijakan baru tersebut hanya membatasi bagi rumah atau barang yang tergolong sangat mewah.

Kata dia, masyarakat kita masih butuh lebih banyak rumah tipe kecil dan menengah ketimbang tipe rumah besar maupun mewah. (wh)