Properti Lesu, Pebisnis Optimistis Tak Akan Berlangsung Lama

Properti Lesu, Pebisnis Optimistis Tak Akan Berlangsung Lama
Wakil ketua DPD REI Jatim Rudiansyah, Direktur Enciety Businees Consult Doddi Madya Judanto, dan Wakil Ketua DPD Arebi Daniel Sunyoto, dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (7/8/2015). arya wiraraja/enciety.co

Pasar properti Indonesia sedang mengalami penurunan sebesar 30 hingga 40 persen memasuki semester kedua 2015. Hal itu ditegaslan Wakil ketua DPD REI Jawa Timur Rudiansyah.

“Memang sebenarnya kecenderungan pasar ini tidak bisa ditebak, karena banyak hal yang mempengaruhi keadaan tersebut,” ujar Rudiansyah saat acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (7/8/2015).

Rudiansyah lalu mengatakan, para pengusaha properti juga harus bersikap profesional dengan menunjukkan fasilitas dan konsekuensi apa saja yang didapat para calon pembeli.

“Peran pemerintah sangat penting sebagai pembuat kebijakan, antara lain IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Namun disini peran pengusaha properti juga tidak kalah penting dengan menyediakan dan melakukan pengecekan terhadap IPB (Izin Pemanfaatan Bangunan),” jelasnya.

Setelah itu, sambung Rudiansyah, pengusaha properti juga bertanggung jawab atas pengelolaan apartemen tersebut. Dalam undang-undang yang mengatur tentang hal tersebut telah dijelaskan bahwa dua tahun awal apartemen tersebut menjadi tanggung jawab pengembang untuk mengelolanya.

Hal senada disampaikan Direktur Enciety Businees Consult Doddi Madya Judanto. Menurut dia meningkatnya harga properti di suatu daerah juga dipengaruhi kebijakan pemerintah di daerah tersebut.

“Contohnya pembangunan Jalan MERR di Kota Surabaya, hal tersebut membuat harga properti di daerah sekitarnya mengalami kenaikan berlipat-lipat,” urainya.

Dalam kesempatan itu, dia membenarkan jika keadaan lesunya ekonomi Indonesia merupakan dampak dari menurunnya tingkat ekonomi global.

“Lesunya ekonomi global ternyata juga berdampak pada pasar properti dalam negeri. Contohnya penjualan apartemen. Kini bisnis ini mulai lesu pembeli,” ungkap dia.

Doodi mengimbuhkan, jika memang kebanyakan pebisnis properti apartemen ini telah jauh-jauh hari menginvestasikan dananya untuk bisnis tersebut.

“Pemain bisnis properti kebanyakan mereka yang dapat memperkirakan dan tahu perkembangan positif dari bisnis ini 10 hingga 20 tahun ke depan, karena secara normative. Dalam bisnis properti harga lahan dan bangunan akan semakin naik tiap tahunnya,” jelas dia.

Daniel Sunyoto, Wakil Ketua DPD Asosiasi Broker Property (Arebi) Jatim, mengatakan jika efek dari lesunya perekonomian nasional tidak menghambat pertumbuhan pengusaha properti di Indonesia, khususnya di Surabaya.

“Kami mencatat tiap tahunnya para pebisnis properti terus tumbuh dan berkembang. Kebanyakan dari kami telah membuktikan bahwa bisnis ini sangat menjanjikan,” tuturnya.

Daniel mengakui, jika kebanyakan pebisnis properti Indonesia merupakan seorang broker properti. “Untuk menjadi pebisnis properti yang ulung memang memerlukan naluri kuat dan jam terbang yang tinggi untuk membaca peluang bisnis,” jelasnya.

Ke depan, ia percaya keadaan melemahnya laju pertumbuhan ekonomi nasional ini tidak membutuhkan waktu lama untuk kembali stabil. “Kami sangat optimis situasi ini akan berubah. Terbukti dengan makin menjamurnya para pebisnis dibidang properti. Kami percaya keadaan lesunya perekonomian global ini tidak akan berlangsung lama ” terangnya.

Ia menuturkan, salah satu keuntungan yang ditawarkan bisnis ini adalah mereka dapat berinvestasi jangka panjang dengan adanya passive income yang didapat tiap bulannya.

“Saban bulan, kita dapat meraup pemasukan sekitar 8 hingga 10 persen passive income dari total harga yang kita keluarkan untuk investasi tersebut. Jika kita bandingkan dengan kita memilih deposito sebagai investasi, rata-rata bank menawarkan bunga sekitar 6 sampai 8 persen ditambah resiko potongan inflasi,” pungkas dia. (wh)