Properti Indonesia Masuki Siklus Baru

Properti Indonesia Masuki Siklus Baru
Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda

Sektor properti di Indonesia memasuki siklus baru dengan mulai bergeliat ke arah positif yang ditunjukkan oleh beberapa indikator ke arah kenaikan. Hal itu ditegasksn Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda.

“Melihat tren pergerakan indikator ekonomi, tidak menutup kemungkinan pada akhir tahun 2015 pasar akan mulai bergerak memasuki fase siklus baru dengan tren kenaikan,” kata Ali Tranghanda, Jumat (27/3/2015).

Kata Ali, beberapa tanda-tanda siklus properti akan memasuki fase siklus baru antara lain tren menurunnya suku bunga acuan Bank Indonesia, pengembang mulai menyasar segmen menengah setelah banyak meluncurkan properti mewah, dan fluktuasi rupiah yang dinilai merupakan kondisi syok pasar sesaat.

Ia berpendapat bahwa melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak menggambarkan buruknya fundamental Indonesia.

Selain itu, sambung dia, kondisi masuknya arus investasi dari Asia Pasifik khususnya ke sektor perindustrian akan menimbulkan dampak positif bagi pergerakan sektor riil.

Sebelumnya, pasar properti di Indonesia diperkirakan baru benar-benar bangkit pada 2016 setelah pada 2015 ini dinilai merupakan titik terendah pasar properti di Tanah Air.

“Dengan melihat pergerakan yang terjadi seharusnya paling lambat di akhir tahun 2016, pasar properti akan kembali bangkit dari keterpurukan selama 2014-2015, khususnya di segmen menengah,” kata Ali Tranghanda.

Indonesia Property Watch sebelumnya memprediksi siklus properti tertinggi terjadi antara tahun 2013 dan melambat memasuki 2014.

Sedangkan 2015 ini, ujar dia, merupakan titik terendah pasar properti dengan tren melambat sepanjang tahun 2014.

“Sepanjang tahun 2014 pasar properti mengalami penurunan 72 persen year on year. Beberapa pengembang melakukan konsolidasi untuk bersiap-siap memasuki fase baru siklus properti ke depan,” katanya.

Ia berpendapat beberapa kondisi ekonomi dan politik masih membayangi kualitas penjualan pasar properti saat ini, meski kondisi anjloknya rupiah dinilai masih jauh dari krisis. (ant/wh)