Properti dan Roda Ekonomi Masyarakat

Properti dan Roda Ekonomi Masyarakat

 

Oleh KRESNAYANA YAHYA

Perumahan adalah hak ekonomi masyarakat. Itu sebabnya tidak selayaknya properti dibangun hanya untuk kepentingan bisnis semata. Pengusaha properti harus ikut memikirkan pemenuhan kewajiban dengan membangun hunian yang nyaman bagi masyarakat.

Dalam perkembangannya, masyarakat tidak hanya butuh tempat tinggal. Mereka juga membutuhkan hunian yang mengakomodir berbagai macam kebutuhan dan mengatasi problematika sosialnya. Untuk itu, pengembang harus ikut memikirkan bagaimana memberikan kelayakan dan kenyamanan hidup.

Yang tak kalah penting melihat perubahan struktur demografi. Hal ini  menuntut pemerintah dan pengembang makin cerdas dalam membuat perencanaan perumahan. Pergeseran usia produktif dan lansia, hendaknya disikapi dengan pembangunan perumahan yang makin terintegrasi, berikut sarana pendukungnya.

Melihat perubahan peta demografi tersebut, diperlukan kemampuan menyediakan perumahan yang layak, terjangkau, dan sesuai lifestyle yang akan terus berubah.

Gagasan pembangunan super block atau pusat pengembangan kota dengan konsep mixed use harus menjadi acuan utama. Ini agar structure dan bangunan bertingkat bisa menekan biaya sekaligus mengintegrasikan dengan tempat kerja belanja dan terintegrasi dengan fasilitas publik.

Konsep mixed use harus menjadi bagian dari strategy pembiayaan yang memampukan dan memungkinkan didapatkan perumahan terjangkau dengan skema pembiayaan yang ideal dalam jangka panjang.

Dalam pembangunan perumahan hendaknya juga terintegrasi dengan public utility, public transport serta skema pembeayaan yang makin jangka panjang dan secara umum kewajiban pemerintah untuk menyediakan lahan untuk perumahan.

Hemat saya, ada perbedaan kebutuhan pada masing-masing kelompok usia. Kelompok pertama, usia muda dan usia kerja. Kelompok ini membutuhkan banyak perumahan temporer atau apartemen. Model tersebut lebih diminati karena aktivitas dan mobilitas mereka yang tinggi.

Begitu pun dengan perumahan mahasiswa disekeliling kampus atau rumah susun di perkotaanbagi pekerja.

Kelompok kedua adalah keluarga baru (young families).Perumahan untuk keluarga produktif yang diperkirakan menetap untuk jangka panjang. Itu perlu mendapat perhatia untuk memotret perkembangan properti.

Ketersediaan lahan tanah bagi perumahan merupakan bahan baku utama. Berbeda dengan material, semen, dan pendukung perumahan lainnya. Diperlukan pilihan jenis rumah di kota yang padat.  Tanah menjadi kunci. Makanya, perlu upaya dan inovasi untuk mengatasi keterbatasan lahan.

Menurut dia, dengan makin terbatasnya lahan, maka model apartemen dan rumah susun ini akan menjadi pilihan. Termasuk perumahan yang sesuai dengan tata kelola lingkungan.

Hingga sekarang, kecenderungan pengembang membangun apartemen cukup tinggi. Seperti kepemilikan tanas tanah 2.000 meter persegi. Jika dibangun perumahan lahan sebesar tersebut  cukup untuk 5 hingga 6 unit. Namun dengan membangun apartemen, tanah 2.000 meter persegi  bisa untuk 50–80 unit. Hal ini akan menjadi pertimbangan penting untuk masa depan.

Begitu pula dengan rumah susun. Saat ini, masyarakat sudah familiar dengan rumah susun sewa (rusunawa) dan rumah susun hak milik (rusunami). Tren ini tidak bisa didorong terlalu cepat, tapi juga tidak mungkin dihambat.

Tumbuhnya bisnis properti juga akan diikuti pertumbuhan bisnis lainnya. Banyak sekali industri ikutan dari industri properti, seperti industri bahan baku alam, fabrikasi, furniture, elektronik, peralatan rumah tangga, PDAM, dan lain-lain. Tentu, ikutan yang paling besar adalah bisnis retail. Jadinya, makin menjamurnya property akan menggerakkan ekonomi rakyat. (*)

*Chairperson Enciety Business Consult dan Dosen Statistik ITS Surabaya