Produsen Tempe Surabaya Gunakan Air Sungai

Produsen Tempe Surabaya Gunakan Air Sungai
Tong-tong berisi kedelai berjejer di pinggir bantaran sungai Tenggilis Mejoyo Surabaya siap untuk dimasak menggunakan air limbah kali, Selasa (10/3/2015).

Banyak cara nakal dilakukan oleh para produsen tempe untuk memenuhi keinginan konsumen agar bisa mengonsumsi tempe dengan harga murah. Seperti di tempat produksi tempe di Jalan Tenggilis Lama III, Surabaya, para produsen menggunakan limbah air sungai untuk digunakan memasak kedelai.

Dari penelusuran enciety.co, Selasa (10/3/2015), di lokasi tempat produksi tempe tersebut sedikitnya ada 12 pengusaha yang melakukan tindakan nakal tersebut. Di tempat seluas 50 meter persegi tersebut, semua proses produksi dilakukan di bantaran sungai. Mulai dari proses pencucian kedelai, memasak, hingga proses fermentasi tempe dilakukan di tempat yang sama.

Sekilas tidak ada yang berbeda antara tempat produksi tempe di kawasan tersebut dengan tempat produksi lain di kampung-kampung. Hanya saja, cara produksi home industry tersebut menggunakan air limbah yang diambil dari sungai Tenggilis Mejoyo.

Karyono, salah satu pegawai produsen tempe, menyebutkan bahwa tiap hari masing-masing pengusaha mampu memproduksi 20 hingga 150 kg. Total produksi bisa mencapai 1-2 ton dalam sehari.

“Semuanya membuat tempe di sini,” aku pria urban yang sudah bekerja sejak dua tahun terakhir tersebut.

Untuk memproduksi tempe dengan kapasitas besar itu, terang Karyono, diperlukan ratusan liter air. Jika menggunakan air PDAM tentu itu akan membuat pengusaha merugi. “Ya, tapi kita menggunakan air (sungai) yang sudah disaring dengan pompa,” terangnya.

Karena kebutuhan air cukup tinggi, para pengusaha terpaksa menggunakan limbah air sungai. Air sungai buangan limbah rumah tangga di kawasan Tenggilis Mejoyo itu diambil menggunakan pompa kecil, kemudian ditampung di sebuah wadah seperti bak mandi berukuran 3 kali satu meter.

Karyawan lain yang enggan disebutkan namanya juga mengakui terpaksa mengambil air di sungai karena kebutuhan produksi tempe cukup besar. Namun, ia membantah jika air tersebut diambil dengan tanpa filterisasi.

“Kami mempunyai saringan air yang kami tempatkan dalam pompa,” cetus dia.

Biasanya, diakui dia, air kali digunakan untuk mencuci dan memasak kedelai. Setelah dicuci, proses selanjutnya adalah memasak kedelai menggunakan tungku besar dari drum minyak. Mereka biasa memasak menggunakan kayu bakar.

“Semua tempe kami dipasarkan di seluruh Surabaya. Mulai dari Pasar Wonokromo hingga Pasar Keputran Surabaya,” katanya.

Soal omzet, dia mengaku meraup Rp 600 ribu hingga Rp 1 juta setiap harinya. Karena harga tempenya cukup terjangkau, banyak masyarakat tertarik membelinya. (wh)