Produsen Ponsel Xiaomi Keluhkan Birokrasi Indonesia

Produsen Ponsel Xiaomi Keluhkan Birokrasi Indonesia
Foto : chip.co.id

Langkah produsen ponsel Tiongkok Xiaomi untuk memperluas pasarnya ke Indonesia dan Brasil terganjal proses sertifikasi yang dianggap berbelit-belit.

Wakil presiden operasional Global Xiaomi, Hugo Barra, mengatakan bahwa di Indonesia dan Brasil, proses (sertifikasi) dapat mencapai enam bulan untuk memenuhi standar lokal dan memperoleh sertifikasi menjual produk.

Meski demikian, ponsel Android Xiaomi yang berbasis Android tetap ditargetkan mulai dijual ke pasar Indonesia pada akhir Agustus mendatang.

Tidak disebutkan secara khusus permasalahan apa yang menghambat proses sertifikasi Xiaomi. Sebelumnya, Motorola mengalami permasalahan yang sama dengan peluncuran Moto G-nya yang tertunda hingga empat bulan.

Proses sertifikasi sendiri tampaknya terlalu bermasalah bagi vendor smartphone populer yang sudah lama malang melintang di tanah air, seperti Samsung, Nokia, LG, ataupun BlackBerry.

Proses sertifikasi telepon seluler di Indonesia dikelola oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika – Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Selain perihal sertifikasi, Pemerintah melalui Kementerian Keuangan sendiri sebelumnya juga telah menggulirkan wacana pemberlakuan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk smartphone dengan tujuan pembatasan impor, meskipun belum ada kelanjutannya hingga sekarang.

Kesulitan untuk berbisnis bagi vendor asing memang menjadi dilema bagi pemerintah. Di satu sisi, mereka ingin memajukan industri telekomunikasi lokal dengan mendorong pendirian pabrik dan pemberian insentif bagi vendor telekomunikasi di Indonesia. Di sisi lain, hambatan ini justru membuat vendor asing dan investor takut memulai bisnis atau investasi di sini.

Xiaomi dikenal sebagai perusahaan elektronik Tiongkok dengan pertumbuhan penjualan yang pesat melalui skema online.

Baru berdiri di tahun 2010, Xiaomi telah menjadi pesaing Samsung dan Apple dalam segmen smartphone dengan mengambil pangsa pasar signifikan di Tiongkok sebagai pasar terbesar.

Tahun ini, Xiaomi telah memulai ekspansinya di sejumlah negara Asia Tenggara, di antaranya Singapura dan Malaysia.

Pemerintahan yang baru, terutama Menteri Komunikasi dan Informatika, diharapkan bisa memberikan kebijakan yang arif terkait kepelikan bisnis telekomunikasi di Indonesia untuk memberikan win-win solution bagi semua pihak. (bst/ram)