Produsen Alat Kesehatan Kesulitan Bahan Baku

Produsen Alat Kesehatan Kesulitan Bahan Baku

Jemmy Hartanto bersama Kresnayana Yahya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Di masa normal, kebutuhan alat-alat kesehatan tidak sebesar ketika pandemic Covid-19. Kebutuhannya per tahun hanya sekitar 5-10 persen. Sedangkan untuk angka penduduk yang menderita penyakit di masa normal ada sekitar 12-20 persen per tahun.

Hal ini disampaikan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (25/4/2020). Acara tersebut juga dihadiri CEO Onemed Group dr Jemmy Hartanto,

Kresnayana lalalu menjelaskan, beberapa lembaga survei belakangan telah merilis jika orang bisa jadi miskin karena pengeluaran kesehatan makin meningkat.

“Data ini dipergunakan beberapa pihak untuk acuan menggiring opini terkait bisnisnya. Padahal data ini adalah data BPS di masa normal. Di mana ada 70 persen penduduk yang mengonsumsi alat-alat kesehatan dan bukan di masa seperti sekarang ini. Artinya ada selisih yang sangat tinggi,” tutur Bapak Statistika Indonesia itu.

Menurut Kresnayana, saat ini tidak dapat dipungkiri terjadi perubahan demand bagi alat-alat kesehatan. Untuk satu petugas medis membutuhkan sekitar 23 alat perlindungan diri (APD) untuk merawat pasien terjangkit Covid-19.

“Dulu, alat-alat kesehatan seperti masker tidak dibutuhkan masyarakat. Namun, sekarang sangat dibutuhkan. Setiap hari harus digunakan untuk memutus mata rantai menyebaran Covid-19. Artinya, di sektor ini memang ada kelebihan demand,” papar dia.

Dengan bertambahnya demand produk alat-alat kesehatan, sambung Kresnayana, banyak pihak yang menggiring opini jika Indonesia butuh impor alat-alat kesehatan.

“Namun, hal ini perlu dilihat secara detail. Karena saat ini Indonesia telah memiliki produsen-produsen yang dapat membuat produk alat-alat kesehatan yang kualitasnya sama bagusnya dengan produk impor,” cetus Kresnayana.

Sementara itu, Jemmy Hartanto mengatakan, saat ini perusahaan dalam negeri penghasil alat-alat kesehatan telah mencukupi permintaan dan kebutuhan alat-alat kesehatan di masa normal.

“Sampai saat ini banyak masyarakat yang berpikir jika 90 alat-alat kesehatan yang digunakan di Indonesia hasil impor. Namun, perlu diketahui, 90 persen alat-alat kesehatan tersebut adalah alat kesehatan yang bersifat high tech. Contohnya alat bantu pernapasan ventilator dan lain sebagainya,” jlentrehnya.

Untuk alat-alat kesehatan seperti masker, jarum suntik, ini pada dasarnya telah dapat diproduksi di dalam negeri. “Contohnya masker, 90 persen kebutuhan dalam negeri selama masa normal telah dapat diproduksi di dalam Indonesia. Dengan estimasi 70 persen materi bahan merupakan dari dalam negeri,” ujarnya.

Saat ini, menurut Jemmy, yang menjadi kendala bagi para produsen alat kesehatan khususnya masker adalah ketersediaan bahan baku. Padahal produsen dalam negeri dapat memproduksi masker sekitar 1 juta masker per hari.

“Karena ketersediaan pasokan bahan ini kurang, produsen kesulitan. Padahal, saya yakin untuk kebutuhan masker dapat tercukupi dengan produksi dalam negeri,” kupas Jemmy. (wh)