Produksi Tembakau Tak Terpengaruh Penurunan Industri SKT

 

Produksi Tembakau Tak Terpengaruh Penurunan Industri SKT
Budi Doyo, Wakil Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI)

Penurunan  sejumlah produksi rokok untuk sigaret kretek tangan (SKT) tidak menurunkan produktivitas tembakau. Demikian juga dengan ditutunya salah satu pabrik rokok Sampoerna yangmemproduksi SKT di Lumajang dan Jember belum membawa dampak besar.
 
Wakil Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budi Doyo mengakui kebutuhan tembakau di Indonesia masih tinggi. Hal ini bisa dilihat  dari kebutuhan dan produktivitas yang tidak sebanding.
 
“Penururnan industri SKT dan ditutupnya salah satu industri belum menggoyahkan, karena suplai tembakau secara nasional masih kurang,” kata Budi kepada wartawan di Surabaya, Kamis (17/7/2014) malam.

Budi mengakui saat ini produktivitas 180-200 ribu ton pertahun. Sementara kebutuhan untuk industri rata-rata pertahun mencapai 300 ribu ton. Selisih kekurangan itu menyebabkan banyak industri yang masih mengimpor dari sejumlah negara. Budi mengakui untuk mendorong produktivitas tidak mudah, lantaran tanaman tembakau tergolong unik dan bukan kategori tanaman musiman.
 
Budi Doyo memang tidak menyebut serapan kebutuhan antara SKT dan SKM (sigaret kretek mesin). “Pada dasarnya hampir sama, karena untuk memenuhi industri rokok masih  kewalahan. Tetapi memang untuk industri SKT yang paling banyak diminati,” jelas Budi Doyo.
 
Hal lain yang sedikit mengancam produktivitas tembakau adalah bungkus rokok yang dilengkapi gambar menyeramkan. Hal ini diberlakukan agar menekan konsumsi rokok yang dilakukan Kementerian Kesehatan 24 Juli lalu.
 
“Masalah ini memang dilematis, dimana pemerintah membutuhkan cukai dalam jumlah besar, tetapi pada sisi lain ada pembatasan konsumsi rokok. Kebijakan ini memang sepertinya asal membuat peraturan,” jawabnya diplomatis.
 
Produktivitas  tembakau sejauh ini masih didominasi Jawa Timur dengan 60 persen. “Ancamannya bukan penurunan industri SKT, atau adanya gambar menyeramkan pada bungkus bungkus rokok, tetapi faktor cuaca. Semakin sering hujan, bisa merusak produktivitas tembakau,” tutupnya.
 
Sebagai gambaran, cukai rokok di Jatim saja sudah mencpai Rp 17,64 triliun hingga semester pertama tahun 2014. Sementara capaian cukai
tembakau secara nasional semester pertama tahun ini tercapai Rp80,311 triliun dari target Rp 86,865 triliun atau baru tercapai 92 persen. (wh)