Produksi Minyak PHE WMO Tumbuh 64,3 Persen

Produksi Minyak PHE WMO Tumbuh 64,3 Persen

Produktivitas minyak yang dihasilkan Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) pada semester pertama tahun ini tercapai 21,155 barel per hari (BOPD). Realisasi tersebut atau tumbuh sebesar 64,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercapai 12,878 BOPD.

Pertumbuhan positif yang ditunjukkan minyak juga dibarengi dengan produksi gas yang mencapai 118 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) pada semester I tahun ini. Hasil porudksi tersebut disalurkan untuk konsumen dalam negeri melalui Perusahaan Gas Negara (PGN), PLN, Bahan Bakar Gas (BBG), dan industri lokal di Jawa Timur.

General Manager PHE WMO Boyke Pardede kepada wartawan menyebut, tahun ini banyak mendapat gangguan cuaca yang berpengaruh pada produktivitas minyak dan gas bumi. “Pada awal tahun kami mendapat gangguan cuaca yang cukup panjang, dan kami berharap pada semester kedua bisa kita optimalkan,” ungkapnya.

Target minyak dan gas PHE WMO yang ditetapkan pemerintah tahun ini sebesra 21,432 barel minyak per hari (BOPD) dan gas sebesar 113 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Sebelumnya PHE WMO sempat menyentuh catatan produksi harian tertinggi sebesar 23,762 BOPD dan produksi gas mencapai 133.3 MMSCFD.

Target yang tengah dibidik PHE WMO pada enam bulan kedepan adalah melaksanakan kegiatan penunjang operasi dan produksi. Seperti pemboran, pekerjaan wellservice, pemeliharaan fasilitas, termasuk juga melaksanakan pemindahan existing pipa penyalur gas bawah air.

Tetapi penurunan minyak dan gas (migas) ini sudah diprediksi sejak awal. Dimana akan terjadi penurunan dalam kurun 2003 hingga 2013. Seperti yang disampaikan Sekretaris Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Gde Pradnyana, sudah memprediksi terjadi penurunan.

“Memang benar, tetapi kita terus berupaya untuk melakukana eksplorasi dan eksploitasi terhadap sumur-sumur yang masih beroptensi. Sebab diperkirakan sumur yang sudah digali, masih memiliki potensi migas,” lanjut Boyke.

Terpisah, Gde Pradnyana memerkirakan penurunan produksi dalam kurun 2003-2013 penurunan cadangan migas sebesar minus 187 juta barel per tahun. Cadangan masih bisa digali melalui sumur diperairan yang lebih dalam. (wh)