Produksi Minyak Menurun, Indonesia Butuh Energi Terbarukan

Produksi Minyak Menurun, Indonesia Butuh Energi Terbarukan
(dari kiri) Direktur Eksplorasi Pertamina EP Dodi Priambodo, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Provinsi Jatim Hadi Prasetyo, Wakil Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim, Kahumas SKK Migas Rudi Rubianto, dan Pengamat Ekonomi Aang Ahmad Prayogo saat mengisi seminar di Hotel Mercure Grand Mirama, Jumat (20/3/2015).

Produksi minyak di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Ini yang membuat Kepala Humas SKK Migas Rudi Rubianto berharap agar pemerintah segera mencari solusi energi terbarukan yang digunakan secara massal.

Menurut Rudi, pada 2025 mendatang, jika pemerintah tidak segera melakukan konversi energi dari bahan bakar minyak ke energi lainnya secara massal, maka dipastikan pasokan minyak nasional akan habis. Terlebih saat dilihat dari peta seismik, masih banyak titik potensi minyak di Indonesia yang belum ditemukan.

“Pemerintah sebenarnya sudah serius dengan menginvestasikan Rp 75 triliun di hulu migas. Dari data yang kami peroleh masih ada ribuan titik potensi minyak di Indonesia yang belum tergali,” bebernya dalam seminar bertajuk “Menakar Ketahanan Energi Nasional” yang digekar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim di Hotel Mercure Grand Mirama, Jumat (20/3/2015).

Untuk itu salah satu cara untuk menghindari menurunnya jumlah produksi minyak, pihaknya melakukan eksplorasi. Namun untuk menguji keberadaan sumber minyak ini membutuhkan banyak biaya. Ini karena 40 persen pengeboran yang dilakukan biasanya tidak membuahkan hasil.

“Di luar negeri, risiko kegagalan jauh lebih besar. Bahkan hingga mencapai 60 persen,” cetusnya.

Karena itu, untuk mencukupi kebutuhan minyak nasional yang terus merosot ini, Rudi membeberkan bahwa produksi energi gas harus digenjot dan dikonversikan. Ini sudah terbukti, pemakaian gas nasional saat ini sudah mengalami lonjakan hingga 67 persen. “Kami juga mulai mengurangi impor gas,” cetusnya.

Sementara itu, Direktur Eksplorasi Pertamina EP Dodi Priambodo menambahkan pentingnya peranan energi untuk kebutuhan nasional. Ia pun memprediksi, beberapa tahun ke depan, permintaan minyak akan turun seiring dengan dilakukannya konversi sejumlah industri dan kendaraan ke bahan bakar gas.

“Dibandingkan dengan negara Eropa, Amerika, atau Australia penggunaan energi di Indonesia jauh lebih sedikit karena kita berada di musim tropis. Tapi saat ini konsumsi minyak kita masih cukup tinggi yakni mencapai 2,25 juta barel per hari,” ungkapnya.

Padahal, eksplorasi energi dan level produksi minyak nasional hanya mencukupi 40 persen dari seluruh kebutuhan nasional. Ini katanya, terjadi gap pemisah yang berdampak pada mahalnya energi.

“Dari total konsumsi itu 24 persen dihabiskan untuk kendaraan dan sisanya untuk penggunaan listrik nasional,” terangnya.

Selain masalah produksi minyak yang menurun, persoalan distribusi juga menjadi hambatan yang cukup terjal. Katanya, di Indonesia jaringan distribusi minyak ada sedikitnya 5 ribu titik dan ini sangat carut marut dibanding dengan negara lainnya.

“Bayangkan saja untuk biaya distribusi ke luar Jawa itu minimal membutuhkan ongkos Rp 1.800 per liternya. Ini belum lagi di Papua. Untuk mencapai Sentani saja karena menggunakan pesawat biaya distribusinya mencapai Rp 30 ribu per liter,” ujarnya.

Karena itu saat ini pemerintah telah serius menggodok 9 jenis energi terbarukan. Satu di antaranya adalah bahan bakar gas yang sekarang mulai digenjot. Selain itu ada bahan bakar lainnya seperti nabati, geotermal, tenaga surya, angin, ombak, dan lainnya sebagainya yang masih membutuhkan banyak perhatian.

“Untuk energi geotermal kita sudah kerjasama dengan Prancis untuk mengembangkan teknologi angin di Sukabumi. Dibandingkan dengan energi minyak, ini jauh lebih murah, tapi produksinya ya membutuhkan massal sehingga ongkosnya lebih bisa ditekan,” papar dia. (wh)