Produksi Bioethanol, Pemerintah Hemat Rp 80 T Per Tahun

 

Produksi Bioethanol, Pemerintah Hemat Rp 80 T Per Tahun
Anton Muhibuddin, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

Murahnya pengembangan bioteknologi yang memanfaatkan mikroba untuk dijadikan pupuk hayati dan energi bioethanol, belum tergarap dengan baik di Indonesia. Padahal, bio industri melalui home industry ini mampu menghasilkan triliunan rupiah dengan investasi yang murah.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Anton Muhibuddin menyebut struktur tanah di Indonesia sangat baik. Dia optimistis bila micoriza digarap dengan baik akan menghasilkan pupuk hayati dan bioethanol yang sangat murah.

“Struktur tanah di Indonesia mampu menghasilkan mikroba alamiah ditunjang dengan iklim yang bagus. Struktur tanah seperti ini yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain di dunia,” kata Rektor Universitas Wahab Hasbullah Jombang, Kamis (7/8/2014).

Anton menyebut, Indonesia bisa menghemat biaya hingga Rp 200 triliun pertahun bila mengembangkan micoriza sebagai mesin biologis. Sedangkan untuk produksi bioethanol, pemerintah bisa menghemat hingga Rp 80 triliun per tahun.

Teknologi yang dikembangkan untuk kedua produk ini cukup melalui home industry dengan biaya yang murah. “Investasinya sekitar Rp 5 juta satu mesin manual buatan sendiri, untuk menghasilkan 50 liter bioethanol per hari. Tetapi untuk mesin penghancur sampah yang baru sekitar Rp150 juta-an,” lanjutnya.

Kinerja dari industri bioethanol dan pupuk hayati ini cukup dengan mengumpulkan sampah organik, kemudian dihancurkan secara manual dicampur dengan mikroba fermentasi. Dari hasil ini akan muncul dua produk, produk padat dijadikan pupuk, sedangkan produk cair dijadikan bioethanol.

Untuk menjadikan bioethanol yang berkualitas, hasilnya didestilasi hingga suhu 80 derajat. Semakin banyak destilasi, akan semakin menghasilkan bioethanol berkualitas. Anton menyebut untuk menghasilkan bioethanol maupun pupuk hayati

“Saat ini baru 30 persen yang sudah berjalan, dan itu baru di Jombang. Dalam lima tahun kedepan akan kita kejar yang 70 persen,” ungkap pria berkacamata ini. Anton menginginkan program ini dijalankan melalui home industry lantaran sampah di tiap kota jumlahnya kian bertambah. (wh)