Produk PE Surabaya Laris Manis di Festival Kuliner Roso Rojo Majapahit

Produk PE Surabaya Laris Manis di Festival Kuliner Roso Rojo Majapahit
Stan UMKM PE Surabaya di Festival Kuliner Roso Rojo Majapahit 2014.

Mantap menjadi pengusaha kuliner jajanan khas Surabaya, sejumlah Pahlawan Ekonomi (PE) mulai unjuk gigi di sejumlah event nasional. Seperti yang terlihat Jumat (17/10/2014), empat pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) PE Surabaya menjadi perwakilan Surabaya dalam Festival Kuliner Roso Rojo Majapahit 2014 yang diselenggarakan Pemprov Jatim di Gelora Delta Sidoarjo.

Dari ratusan stan yang berderet memenuhi timur Stadiun Gelora Delta Sidoarjo, PE Surabaya menjadi stan utama dalam festival kuliner yang semuanya menyajikan jajanan khas zaman masa kerajaan Majapahit tersebut. Pasalnya, PE Surabaya mendapatkan urutan nomor satu dan dua untuk mendapatkan tempat dalam festival tersebut.

“Karena temanya kuliner khusus zaman kerajaan Majapahit, kami membawa pelaku UMKM yang benar-benar memiliki konsentrasi berjualan makanan khas Surabaya. Di antaranya rujak cingur, semanggi Surabaya, kikil, dan minuman herbal khas Surabaya,” terang Kurator PE Surabaya Lukman Hakim kepada enciety.co.

Dijelaskan Lukman, keikutsertaan PE Surabaya ini adalah bentuk keseriusan Surabaya untuk menjembatani para pelaku UMKM untuk lebih dikenal masyarakat. Terlebih tahun depan, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah resmi dibuka, maka PE Surabaya harus bisa bersaing dengan kuliner lainnya.

“Karena itu semua makanan khas Surabaya kita bawa ke sini, untuk kita kenal dan pasarkan,” jelas direktur Hotel School (SHS) ini.

Secara khusus, Lukman mengaku memboyong empat pelaku UMKM yang ahli dalam membuat kuliner khas Surabaya. Di antaranya Khoiriyah PE asal Semampir yang telah piawai membuat rujak cingur khas Surabaya.

“Ada juga warga Sambikerep, ibu Aminah dan suaminya Subianto yang mempunyai ramuan khusus dalam membuat kikil dan Semanggi Surabaya. Ini makanan khas Surabaya, dan saat zaman kerajaan makanan ini telah populer pada masanya,” bebernya.

Selain itu, pelaku UMKM PE Surabaya, seperti Rizky, warga Wonokromo yang ahli dalam memasak kikil asli Surabaya juga ikut berpartisipasi. Disusul Rahmat Sutopo warga Rungkut yang mengaku membawa minuman herbal khas Surabaya ramuannya sendiri.

“Setelah dibuka pada kemarin (Kamis/16/10/2014) pagi, stan PE Surabaya langsung digeruduk pengunjung. Saking larisnya, sampai semua makanan ludes terjual dan hanya menyisakan 7 porsi saja,” bangganya.

Larisnya jualan ini diakui Subianto, pedagang Semanggi dan Kikil khas Surabaya. Selama tiga hari mengikuti pameran, pria paro baya itu mengaku omsetnya naik tiga kali lipat. Dalam sehari ia bisa mendapatkan Rp 2 hingga 3 juta.

“Kalau sehari-hari saya berjualan di rumah di kawasan Bratang Wetan Surabaya dengan omset Rp 800 ribu per hari. Sekarang omsetnya meningkat drastis,” akunya.

Sambung Lukman, pameran khusus diperuntukkan UMKM ini sangat bermanfaat bagi perkembangan industri UMKM Surabaya. Ke depan Lukman mengaku telah mencanangkan PE Surabaya akan kembali dilibatkan untuk berpartisipasi dalam pameran. Satu di antaranya pada November mendatang, mereka akan dikirim untuk mengikuti pameran UMKM di Jalan Tunjungan Surabaya. (wh)