Produk Home Decoration Lely Ninako Tembus Pasar Ibu Kota

Produk Home Decoration Lely Ninako Tembus Pasar Ibu Kota

Lely Russarani memamerkan produk buatannya.foto:arya wiraraja/enciety.co

Bisnis modern membutuhkan kolaborasi. Bergabung dengan komunitas yang menjadi salah satu langkah mudah yang bisa dilakukan. Berkomunitas berarti membangun jaringan sekaligus membuka peluang usaha.

Bekal itu dirasakan benar oleh Lely Russarani, owner Ninako F&C. Dia mengaku aktivitas di komunitas sangat mendukung bisnisnya yang dimulai dari nol.

“Di komunitas kita bisa saling membantu. Saling memberi masukan,” ujar Lely saat ditemui enciety.co di rumahnya, Jalan Margorejo Indah II Blok A-215, Surabaya, Rabu (8/1/2020).

Lely lalu menceritakan, sebelum membuka usaha, dia ikut membantu bisnis saudaranya di Malang. Budhe Wiwik, begitu dia menyebutnya. Dia mengembangkan bisnis fashion dan handicraft. Produk andalannya hiasan bordir. “Hampir dua tahun saya bolak-balik Surabaya-Malang,” aku dia.

Waktu itu, jarak tempuh Surabaya ke Malang ditempuh sekitar 4 jam. Tidak seperti sekarang, setelah ada jalan tol, Surabaya ke Malang bisa dijangkau 1,5 jam.

Jauhnya tempat kerja Lely tersebut membuat orang tuanya khawatir. Terutama kesehatan dia. Lely sering ditegur ibunya, kenapa tidak buka usaha sendiri di rumah? Toh, peluang dan pasar di Surabaya juga besar.

Lely mengamini saran orang tua. Tahun 2009, dia membua usaha. Produknya tak jauh dari ketrampilan dia di bidang fashion dan handicraft. Lely kemudian bergabung dengan Persatuan Sulam dan Bordir (Persadir) Jawa Timur.

Di Persadir, Lely banyak berteman dengan pebisnis yang sudah mapan.  Dia sangat terbantu karena bisa belajar dari pengalaman mereka. Lely sering berkonsultasi dengan beberapa kawan di komunitas. Ada yang mengkritik, ada juga yang memuji.

“Namun semua itu jadi pijakan saya untuk bersemangat melakoni usaha fashion dan bordir ini,” terangnya.

Terkait masalah produksi, Lely memanfaatkan jasa banyak orang. Kalau ada pesanan, dia pakai sistem borongan. Kerja sama dengan penjahit. “Saya ajak penjahit yang tak jauh dari rumah. Kalau pesanan banyak biasanya mereka kerjakan di rumah saya. Saya sampai mecah tabungan buat beli mesin jahit, obras dan bordir sendiri,” ungkap perempuan kelahiran Malang, 7 November 1967, itu.

Bidik Pasar Anak Muda

Produk Home Decoration Lely Ninako Tembus Pasar Ibu Kota
foto:arya wiraraja/enciety.co

Lely Russarani makin termotivasi mengembangkan diri dan meluaskan jangkauan bisnis. Dia sempat ikut kursus membordir dan menjahit untuk menambah pengetahuan. Karena sering menghadiri pertemuan di berbagai komunitas, Lely diajak bergabung dengan Pahlawan Ekonomi, gerakan pemberdayaan perempuan yang digagas Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, tahun 2010.

Kata dia, waktu itu pelatihannya di Grosir Kapas Krampung (GKK). Pesertanya bisa dihitung dengan jari. Tidak seperti sekarang, peserta pelatihan Pahlawan Ekonomi sampai membludak dan ditempatkan di Kaza City Mall.

Setelah bergabung dengan Pahlawan Ekonomi, ketrampilan Lely makin berkembang. Tidak hanya sarung bantal dan selimut, produk yang dia buat juga beraneka ragam. Dia mulai mengembangkan home decoration, yakni tempat tisu dan tirai.

“Saya buat satu set home decoration. Mulai dari tempat tisu, sarung bantal, tirai, taplak meja, dan bad cover. Untuk proses produksi, saya dibantu empat orang,” tutur perempuan yang pernah tinggal di Jepang itu.

Lely membandrol produk-produknya  sekitar Rp 75 ribu sampai Rp 450 ribu. Untuk harga sesuai desain dan detail produk yang dipesan. Tiap bulan, omzetnya berkisar Rp 7 jutaan. Dari angka tersebut, 30 persen order dari pelanggan tetap beberapa komunitas di Jawa Timur.

“Beda dengan peak season seperti di bulan-bulan menjelang Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Seperti tahun 2019, saya dapat mengumpulkan omzet Rp 24 juta di momen Lebaran saja,” ungkap dia.

Untuk pemasaran, Lely memiliki beberapa pelanggan tetap. Dengan desain klasik karyanya, pasar yang menyukai produknya mayoritas adalah kalangan dewasa di Surabaya dan Jakarta.

Lely juga aktif melakukan pemasaran online. Dia biasa memasarkan produk-produknya di akun instagram, ninako_collection.

Lely juga punya pengalaman berkesan saat diajak Dinas Perdagangan (Disdag) Surabaya ikut pameran Incraft 2019 di Jakarta. Semua produknya ludes diborong pesanan dari jasa titipan (jastip). Nilainya Rp 25 juta,

Kerja keras dan kegigihan Lely dalam berusaha akhirnya mendapat berkah. Dia dinobatkan menjadi Juara 1 Pahlawan Ekonomi Award Kategori Creative Industry 2019.

Tahun 2020, Lely ingin menambahkan desain produk lebih kreatuf dan inovatif. Dia ingin menyasar pasar anak muda. “Pasar anak muda ini menurut saya pasar yang rumit. Karena selera mereka sering berubah. Lebih detail. Sampai saat ini saya masih belajar memahami selera mereka. Mudah-mudahan saya dapat menggaet pelanggan anak-anak muda,” ujar dia. (wh)