Produk Ecopirint Monic Terbanyak Terjual via Facebook

Produk Ecopirint Monic Terbanyak Terjual via Facebook

Teks: Monica Harijati memamerkan batik ecoprint buatannya. foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Tidak ingin berhenti berinovasi. Begitulah Monica Harijati Hariboentoro. Setelah sukses dengan usaha clay dan roti, ia kini menambah usahanya, yakni  membuat batik ecoprint. Batik ecoprint dibuat dari bahan dasar alam, memakai daun-daun kering sebagai bahan utama pewarnaan.

Monic, begitu ia karib disapa, mampu menjual produk yang dilabeli Surabaya Godhong2an Ecoprint, ke beberapa daerah di Jawa Timur.

“Saya masih baru sebulan menggeluti usaha pembuatan ecoprint tersebut dengan belajar dari teman batik Marina Gozali asal Sekardangan Sidoarjo,” kata perempuan dua anak tersebut.

Monic lalu menuturkan, penambahan usaha ecoprint ini dikarenakan produk tersebut sedang lagi tren di pasaran. Selain itu, dengan menggunakan bahan alam yaitu daun kering,  perempuan 57 tahun tersebut dapat mengingatkan kepada masyarakat bahwa tidak ada yang terbuang.

“Ecoprint sendiri, lebih alami (back to nature). Saya sendiri, cukup menggunakan daun limbah di sekitaran rumah saja. Ndak perlu pakai daun-daunan yang segar kalau saya,” ujar warga jalan Darmo Indah Selatan FF 26 Surabaya, ini.

Ia menjelaskan, pembuatan ecoprint sendiri sebenarnya ada dua cara. Bila memakai daun segar, maka penggunaannya harus ditutuki (ditempelkan kemudian ditumbuk, red) di selembar kain.

Sedangkan untuk penggunaan daun yang kering akan lebih mudah lagi. Daun-daun yang telah ditata sesuai selera di atas kain saja kemudian terus digulung. Setelah itu, kain yang sudah digulung dikukus selama tiga jam.

“Setelah 3 jam, kain yang masih ada daunnya tersebut kemudian dianginkan hingga semalaman. Kemudian baru direndam dan dicuci memakai air tawas. Hanya itu saja. Yang bagian ngukus suami saya,” urainya, lalu tertawa.

Monic sendiri kini mengaku lebih bersyukur dengan tambahan ilmu yang telah diterapkannya tersebut. Karena Ia yang telah bisa membuat ecoprint dari 1 warna hingga kombinasi tersebut tidak sampai sebulan sudah laku terjual 20 lembar kain.

Menurutnya, penjualan ecoprint bikinannya dibantu teman-temannya. Tetapi hal tersebut hanya sebagian kecil saja karena dirinya belum berani menitipkan karena terkadang banyak yang belum mengerti tentang batik ecoprint itu sendiri.

“Terbanyak adalah penjualan melalui Facebook. Bahkan dengan menggunakan Facebook untuk posting karya, produk saya langsung dibeli oleh penggemar batik dari Tulunggagung,” ungkap dia sambil menyebut jika harga ecoprint miliknya dibanderol dengan harga dari Rp 80-180 ribu. (wh)