Produk China Banjiri Pasar Bali

 

Produk China Banjiri Pasar Bali

Produk-produk impor asal China berupa barang modal, bahan baku usaha industri kecil dan kerajinan serta konsumsi membanjiri pasar Bali.  Arus masuk ini begitu  cepat masuk karna Bali termasuk salah satu destinasi  wisata dunia.

Perdagangan motor yang menjamur di daerah ini dari berbagai keluaran pabrik seperti Meo dan jenis motor keluaran baru, sebagian besar adalah impor dari China.  Begitu pula toko yang menjual berbagai barang elektronik, sarana telekomunikasi berupa laptop, telepon genggam, dan perlengkapannya yang menjamur di kota Denpasar. Hampir semua jenis merupakan barang impor dari China.

Tingkat konsumsi masyarakat di Bali tergolong tinggi. Sehingga perdagangan berbagai mata dagangan impor juga tinggi. Baik berupa barang modal, bahan baku maupun barang konsumsi. Jumlah devisa yang dikeluarkan pun bertambah besar.

Badan Pusat Statiistik (BPS) Bali dalam laporannya mengungkap bahwa realisasi barang impor daerah Bali selama 2014 meningkat tajam. Sekitar 75 persen devisa yang dikeluarkan pengusaha Bali digunakan untuk membeli barang dari Tiongkok.

Realisasi impor Bali selama Januari-April 2014 misalnya bernilai USD 140,9 juta, sebanyak USD 105 juta di antaranya dibelanjakan untuk membeli beraneka barang buatan pabrik di China. Sisanya dari sejumlah negara lainnya.

Impor barang dari  China di awal 2014 yang mencapai USD 105 juta naik tajam jika dibandingkan empat bulan pertama pada 2013 yang bernilai USD 12,3 juta. Disusul dari Korea Selatan sebesar USD 9,2 juta dari sebelumnya hanya USD 1,3 juta.

Amerika Serikat yang biasanya menjual barang dengan nilai tertingggi ke Bali, kini hanya berada di urutan ketiga senilai USD 4,3 selama empat bulan pertama  pada 2014. Angka itu merosot jika dibanding periode yang sama 2013 mencapai USD 4,4 juta.

Bali belakangan ini memang kebanjiran barang dari Tiongkok tidak saja berupa mesin sebagai barang modal, kendaraan dari berbagai jenis termasuk perlengkapannya. Juga barang berupa keramik, pakaian jadi termasuk barang berbahan baku plastik lainnya, kata Yogananta. (bst/ram)