Prevalensi Diabetes di Jatim Masih Tinggi

Prevalensi Diabetes di Jatim Masih Tinggi
ilustrasi: belle18.com

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia mengungkapkan terdapat 10 juta orang penderita diabetes, dan 17,9 juta orang yang berisiko menderita penyakit ini. Sementara Provinsi Jawa Timurmasuk 10 besar prevalensi penderita diabetes se-Indonesia atau menempati urutan ke Sembilan dengan prevalensi 6,8.

Angka ini satu tingkat di atas DKI Jakarta yang berada diurutan kesepuluh dengan prevalensi 6,6. Sedangkan yangmenempati puncak posisi pertama adalah Maluku Utara dengan prevalensi 11,1. “Sedangkan prevalensi untukSurabaya lebih tinggi dibandingkan Jatim, yaitu tujuh,” ujar Kepala Departemen/SMF PDNS RSU dr Soetomo. Prof Dr Askandar Tjokroprawiro, Rabu (30/9/2015).

Tingginya prevalensi penderita diabetes di Surabaya dibandingkan daerah lainya di Jatim, karena Surabayamerupakan kota besar, dimana pola hidup masyarakatnya sebagian besar tidak sehat.

Hal itu didukung dengankemudahan mendapatkan berbagai jenis makanan enak yang belum tentu sehat, kemudahan mengaksestransportasi, kesibukan kerja yang tinggi sehingga tidak memiliki waktu untuk latihan fisik, dan kemampuan ekonominya lebih tinggi.

“Penyebab utama diabetes adalah dari keturunan, namun pemicunya adalah pola hidup. Oleh karenanya, mulai sekarang harus sadar kesehatn dan memperbaiki pola hidup,” tegasnya.

Askandar mengatakan, dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, 5,7 persennya menderita diabetes dan sebagianbesar diderita oleh perempuan. Sedangkan secara internasional, Indonesia masuk 10 besar prevalensi terbesarpenderita diabetes, yaitu menempati posisi ketujuh dengan prevalensi 11,77. Dimana posisi puncak diduduki olehCina dengan prevalensi 98,4.

“Setiap menit terdapat 12 penderita baru dan setiap menit enam orang meninggal dunia diseluruh dunia.Bayangkan berarti didunia ada 7 juta penderita diabetes baru per tahunnya dan 3,8 juta orang meninggal setiaptahun,” terangnya.

Diabetes benar-benar menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, bukan hanya di Indonesia, tetapi jugadidunia. Setiap tahun dilakukan studi dan ditemukan berbagai jenis-jenis obat-obatan baru, akan tetapi jika tidakdiimbangi dengan perubahan pola hidup masyarakat jumlah penderita diabetes akan terus meningkat.

Di sinilah pentingnya sosialisasi dan edukasi mengenai diabetes kepada masyarakat luas agar semakain sadarkesehatan juga pola hidup sehat. Karena upaya preventif atau pencegahan jauh leih baik daripada mengobati. (wh)