Presiden Jokowi: Saya Siap Tak Populer dan Dimaki

jokowi

Di hadapan ribuan relawan pendukungnya, Presiden Joko Widodo menyampaikan curahan hatinya mengenai berbagai kebijakan terbaru yang kerap dianggap tak populis, namun baik buat masa depan Indonesia. Presiden Jokowi menegaskan dirinya siap dimaki oleh siapapun dengan kebijakan mengalihkan subsidi BBM, menolak impor beras, hingga menghukum mati pengedar narkoba.
Curahan hati Presiden Jokowi disampaikannya di saat menghadiri Jambore Komunitas Juang Relawan Jokowi yang dihadiri ribuan perwakilan dari seluruh Indonesia, di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (16/5/2015).

Kata Presiden Jokowi, dalam sekian tahun terakhir, masyarakat Indonesia selalu termanjakan oleh subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Padahal, anggarannya sangat besar, yang terakhir hingga Rp 300an triliun pertahun. “Kenapa kita pangkas? Kita alihkn ke tempat-tempat produktif karena kita tidak mau masyarakat kita jadi konsumtif. Kita tidak sadar tiap hari menggunakan BBM. Padahal BBM itu disubsidi dari APBN dan sebagian dari utang luar negeri,” jelas Jokowi.

“Masalahnya, kita senang-senang, tapi duit yang dipakai dari utang. Itu yang mau kita alihkan,” tegas Jokowi disambut tepuk tangan riuh peserta Jambore.

Presiden Jokowi mengakui dirinya sadar benar perubahan yang dia dorong memang akan menyakitkan sebagian masyarakat. Namun, semuanya juga sadar bahwa perubahan itu biasanya pasti dimulai dengan hal-hal yang sakit. “Saya tahu, banyak yang memaki-maki saya. Untuk awal-awal. Tapi tidak yang hadir di sini. Itu yang karena belum tahu arahnya mau kemana. Saya siap tidak populer. Saya siap dimaki-maki,” jelasnya.

“Jangan dipikir Jokowi itu penakut, itu yang perlu dicatat. Waktu mengalihkan BBM November tahun lalu, saya diingatkan. ‘Pak Jokowi, kalau mengalihkan akan menghilangkan subsidi, maka popularitas akan jatuh. Itu resiko. Tidak ada masalah buat saya,” ujarnya lagi.

Presiden Jokowi juga bercerita soal pengalamannya mengeksekusi warga negara asing dan WNI yang menjadi pengedar narkoba. Dirinya juga diingatkan akan ada tekanan luar negeri, PBB, kepala-kepala pemerintahan negara yang lain. “Saya sampaikan juga. Kedaulatan hukum positif kita, hukuman mati itu ada. Memang saya tidak pernah berkomentar keras. Tapi saya hanya perintah sekali, sudah dilakukan. Yang mengeksekusi memang dari Kejaksaan Agung. Karena setiap hari, (akibat narkoba) meninggal 50 orang. Setahun berarti 18 ribu. Kok yang diurus satu dua orang yang jelas-jelas pengedar. Yang 18 ribu tidak pernah diurus. Itu namanya tidak adil,” beber Jokowi.

Hal ketiga yang disampaikan Presiden Jokowi adalah soal naiknya harga beras. Saat itu terjadi, kata Jokowi, ada desakan dan tekanan agar pemerintah melaksanakan impor beras. Tentu saja impor akan menyebabkan harga beras turun.

Menurut Jokowi, kebijakan demikian adalah kebijakan yang mudah. Mengimpor beras, maka harga beras untuk dikonsumsi masyarakat murah.

“Tapi petaninya kita mau makan apa? Bayangkan kalau kebijakan saya impor beras, beberapa juta ton, harga beras jadi Rp 4 ribu sekilogram. Petani semuanya akan seperti apa? Ini yang perlu kita semua tahu,” jelas Jokowi.

“Kalau ditekan saja kita masih kuat, tidak usah impor. Kalau harga beras naik, kita merasa berat harganya. Hitungan terakhir Kementan, kita masih tidak perlu impor,” ujarnya lagi.

Dari semua hal itu, Presiden Jokowi menegaskan bahwa memang berat untuk merubah sesuatu, yang selama ini sudah berada di zona nyaman. “Tapi kita perlu lihat efek baiknya di jangka panjang. Kita jadi lebih produktif. Kita membutuhkan kekuatan-kekuatan yang bisa tahan menderita,” tukas Jokowi.

Presiden RI juga menegaskan bahwa untuk semua kebijakan yang dianggap tak populis itu, Pemerintah juga menyiapkan langkah-langkah agar lebih maju. Ke depan, Pemerintah akan fokus ke penataan dan pembangunan infrastruktur. Ke depan, akan lebih banyak pelabuhan, sarana kereta api yang menghubungkan berbagai pulau di Indonesia.

“Distribusi logistik barang-barang jadi mudah, ujungnya harga barang jadi murah semuanya. Selama ini, biaya angkutan di Indonesia itu tiga kali lipat biaya di negara tetangga. Insya Allah dalam lima tahun, niatan kita itu bisa tercapai,” jelasnya.

“Tapi ini perlu waktu. Sabar betul. Ini memang kerja jangka menengah dan jangka panjang. Semuanya memang memerlukan pengorbanan-pengorbanan. Itulah yang ingin kita minta dari rakyat, dari masyarakat,” tambahnya.

Dia juga membeberkan bahwa semua negara di dunia sedang mengalami tekanan ekonomi yang berat, seperti dirasakan juga oleh Indonesia. Semua negara mengalami penurunan tingkat pertumbuhan, dan Indonesia hanya turun sedikit.

“Tapi saya yakin tahun ini kita akan tumbuh seperti tahun kemarin. Orang bekerja harus optimis, jangan pesimis. Masyarakat juga harus optimis. Kalau ada suara-suara miring, itu tolong diluruskan. Mohon dijelaskan sebetulnya kondisinya seperti ini. Saya kira itu tugas kita bersama, sehingga tak menjadi rumor yang tak baik,” kata Jokowi di hadapan para relawan. (bst)