Potensi Pasar Rumah Menengah Bisa Capai 1,5 Juta Per Tahun

Potensi Pasar Rumah Menengah Bisa Capai 1,5 Juta Per Tahun
foto:sandhi nurhartanto/enciety.co

Penambahan potensi pasar rumah menengah di Indonesia bisa menjadi sebesar 1,5 juta penduduk setiap tahunnya atau 430 ribu kepala keluarga (KK).

“Jumlah ini memberikan pangsa pasar yang seharusnya dilirik oleh para pengembang perumahan,” ungkap Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch IPW, Ali Tranghanda,, Kamis (26/11/2015).

Dengan penambahan potensi pasar tersebut, maka porsi terbesar berada di rumah dengan harga di bawah Rp 300 juta per unit sebanyak 295.388 unit.

Demikian juga untuk segmen harga Rp 300 juta hingga Rp 750 juta dan Rp 750 juta hingga Rp 1 miliar bertambah masing-masing sebanyak 89.767 unit dan 38.362 unit.

Sedangkan selebihnya merupakan pangsa pasar rumah untuk harga Rp 1,5 miliar ke atas. Ali menuturkan, pergeseran harga rumah yang tadinya dipandang mahal sebesar Rp 1 miliaran  saat ini relatif termasuk dalam golongan kelas menengah.

Prediksi IPW mengacu data Bank Dunia yang memperlihatkan pada 2003 segmen menengah di Indonesia hanya 37,7 persen, namun pada 2015 meningkat menjadi 56,5 persen. Hal serupa juga terjadi di negara-negara berkembang lainnya. Sementara penduduk di usia produktif mulai usia 15 tahun hingga 64 tahun cukup dominan, diperkirakan sebesar 67,9 persen.

“Perkembangan di segmen menengah diikuti dengan bertumbuhnya penduduk di usia produktif sehingga membuat piramida penduduk kita sudah tidak berupa piramida lagi melainkan berbentuk ‘gentong’ dengan komposisi segmen menengah yang gemuk,” papar Ali.

Data dari Bank Dunian itu diakui sejalan dengan analisis Indonesia Property Watch sebelumnya yang menyebutkan bahwa primadona pasar hunian akan terjadi direntang harga Rp 500 jutaan sampai Rp 1 miliar untuk perumahan landed (tapak), dan Rp 300 jutaan hingga Rp 500 jutaan untuk hunian vertikal.

“Saat ini masih banyak pengembang yang mengincar  kelas menengah atas yang sebenarnya pasar malah sangat berpotensi di segmen menengah,” ujar dia seperti dilansir Liputan6.

Pengembang diimbau dapat mengincar  kelas menengah dalam penyediaan rumah untuk masyarakat luas dan tidak hanya menjadikan tanah dan rumah sebagai komoditi jual beli semata. Bahkan, kata Ali, dengan kondisi pasar yang tidak mismatch antara permintaan dan pasokan akan menyelamatkan cashflow pengembang dengan tidak memaksakan main di segmen atas. (wh)