Polres Surabaya dan Tim Gabungan Sidak Beras Plastik

Polres Surabaya dan Tim Gabungan Sidak Beras Plastik
Teks: Polisi dan petugas yang berwenang lakukan sidak beras di pasar tradisional. Foto: istimewa

Keluhan dari Dewi Septiani, 29, pedagang nasi uduk dan bubur ayam di Ruko GT Grande, Blok F 19 Nomor 37, RT 01/RW 23, Perumahan Mutiara Gading Timur, Kelurahan Mustikajaya, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat yang memasak beras diduga dari plastik langsung direspons kepolisian Surabaya.

Bersama tim gabungan yang terdiri dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur, Bulog dan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Surabaya serta Polrestabes Surabaya menggelar sidak di berbagai pasar tradisional di Kota Pahlawan.

Tim gabungan menyasar pasar tradisional untuk menelusuri beredarnya beras plastik asal Tiongkok, Rabu (20/5/2015) siang. Mereka terpantau menyusuri Pasar Tembok, Pasar Wonokromo dan Pasar Bendul Merisi.

Dalam sidak tersebut, tim gabungan nampak cermat memeriksa beras yang dijual para pedagang. Mereka langsung memeriksa keaslian beras yang dijual di masyarakat umum tersebut apakah bercampur dengan plastik yang ramai diberitakan itu.

Kepala Seksi Pengawasan Barang dan Perlindungan Konsumen Disperindag Jawa Timur, Eka Setyabudi mengatakan pihaknya melakukan sidak untuk mengetahui apakah di kota Surabaya juga sudah ada peredaran beras plastik yang sangat membahayakan masyarakat yang mengkonsumsinya.

“Kami masih kesulitan membedakan beras sintetis dan asli yang dikabarkan sudah beredar di pasaran. Ini dikarenakan kami belum mengetahui jenis beras tersebut. Bila ada contoh spesifik dari beras yang diduga palsu tersebut maka akan mudah dideteksi,” katanya kepada wartawan.

Ia melanjutkan, ada ciri-ciri dari informasi yang diberikan oleh pihak Bulog dan dinas pertanian. Untuk beras sintetis bentuknya rata-rata utuh, bening, aromanya hambar dan jika dimasukkan air mengambang.

“Kalau beras asli itu pasti baunya khas dari mesin penggilingan,” lanjutnya.

Pihaknya hanya bisa menduga bila beras itu adalah beras impor. Pihaknya juga belum bisa meyakini apakah beras dari plastik tersebut sudah masuk ke Jawa Timur atau belum. Sejauh ini upaya antisipasi masuknya beras palsu sudah dilakukan oleh Pemprov Jawa Timur bersama tim gabungan tersebut.

Dalam pemeriksaan beras sintetis di beberapa pasar di Surabaya, tim terpadu memang tampak kesulitan. Sebab, selain hanya bermodal informasi dari internet, tim tidak cukup memiliki data kuat dimana peredaran beras itu fokusnya.

Mereka hanya mengandalkan hasil tes beras yang dimasukkan di gelas yang berisi air, lalu dengan melihat dan mencium aroma beras. “Untuk lebih yakinnya, kami bawa sample atau contoh untuk diperikas di laboratorium terlebih dahulu,” tukasnya.

Kasubag Humas Polrestabes Surabaya Kompol Widjanarko meminta agar masyarakat Surabaya waspada dan melaporkan ke pihaknya bila menemukan beredarnya beras plastik tersebut.

“Kami harap masyarakat lebih jeli untuk membeli beras. Telitilah dan bila ditemukan yang ganjil laporkan kepada kami agar dapat ditindaklanjuti dengan segera,” kata widjanarko.

Sunaryo salah pedagang beras mengaku tidak mengetahui bila ada beras plastik yang beredar di Indonesia. Dirinya mengakui baru tahu bila ramai-ramai pemberitaan beras plastik tersebut.

“Kami sebagai pedagang tentu ingin agar pihak terkait segera mengumumkan kepada masyarakat agar tidak terjadi kesalah pahaman dengan pedagang beras,” tutur Sunayo yang berjualan di pasar tembok tersebut. (wh)

1 komentar di “Polres Surabaya dan Tim Gabungan Sidak Beras Plastik

Komentar di tutup.