Pola Konsumsi Sangat Dipengaruhi Dunia Digital

Pola Konsumsi Sangat Dipengaruhi Dunia Digital

Kresnayana Yahya. foto: arya wiraraja/enciety.co

Perubahan pola konsumsi masyarakat sangat dipengaruhi dunia digital. Di antaranya, presentase pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga. Data transaksi uang elektronik triwulan IV/2018 naik 218,9 persen secara year on year (yoy).

Hal itu ditegaskan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, dalam acara Suara Surabaya Economic Forum (SSEF) Ballroom Grand City Corvex Surabaya, Kamis (5/12/2019).

Menurut Kresnayana, ada beberapa komponen yang mempengaruhi perkembangan presentase pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga.

“Di antaranya, transportasi dan komunikasi yang angkanya 6,14 persen, restoran dan hotel mencapai 5,85 persen, dan makanan minuman selain restoran dengan capaian 4,81 persen,” ujar Kresnayana.

Kata dia, perputaran uang dalam dunia digital ini sangat cepat. Tidak hanya dalam satu platform saja. Kresnayana mencontohkan, jika seseorang punya uang Rp 100 ribu, jam 7 pagi uang itu belanjakan untuk beli nasi pecel. Jam 10 pagi, uang itu sudah pindah ke orang jual makanan sate, lalu malamnya sudah berputar ke pedagang minuman.

“Artinya, uangnya tetap Rp 100 ribu, tapi tiap transaksi punya added value sendiri. Untuk melacaknya bisa kita lihat di pembukuan akuntan akhir bulan. Inilah yang tidak kita sadari,” papar pria yang mendapat julukan Bapak Statistika Indonesia itu.

Contohnya, imbuh Kresnayana, tiga transaksi platform Go-Pay pada Februari-Maret 2019. Untuk transaksi transportasi Go-Ride nilainya 50,92 persen. Untuk Go-Food nilainya 20,91 persen, dan untuk Go-Car angkanya 14,11 persen.

Selain pola konsumsi, Kresnaya juga menyorot alokasi gaji pegawai yang saat ini telah sadar akan tabungan masa depan. Lebih sering disebut investasi. Untuk pegawai dengan gaji 1 kali upah minimum provinsi (UMP), 10 persen untuk proteksi, 20 persen untuk tabungan, dan 70 persen untuk kebutuhan hidup.

Sedangkan untuk pegawai dengan gaji 2 kali UMP, alokasi yang disiapkan adalah 10 persen proteksi, 20 persen biaya cicilan utang, 30 persen tabungan, dan 40 persen untuk kebutuhan hidup.

Lalu, bagi pegawai dengan gaji 3 kali UMP, rincian alokasi 25 persen untuk cicilan utang, 35 persen untuk tabungan dan proteksi, dan 40 persen untuk kebutuhan hidup.

“Yang menarik ada alokasi dana untuk proteksi kesehatan. Artinya, banyak masyarakat sadar akan kesehatan dan kehidupan masa depan,” cetusnya.

Menurut Kresnayana, pertumbuhan perekonomian saat ini sangat dipengaruhi sektor jasa. Di mana ada pertumbuhan perekonomian kelas menengah atas dan bukan pertumbuhan perekonomian yang sangat dipengaruhi perkembangan sektor barang.

Jika dilihat dari data struktur dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) menurut lapangan usaha triwulan III/2019, tiga sektor komponen jasa yang pertumbuhannya tinggi. Di antaranya, jasa perusahaan 10,22 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial 9,19 persen, dan jasa lain-lain 10,72 persen.

“Sementara itu, untuk sektor industri hanya tumbuh 4,15 persen dan sektor pertanian hanya 3,08 persen. Artinya, saat ini komponen jasa ini punya potensi besar,” tegasnya. (wh)