PLN Pastikan Tarif Listrik Tidak Naik pada Semester Pertama

PLN Pastikan Tarif Listrik Tidak Naik pada Semester Pertama
foto: enegitoday.com

Fluktuatif tarif daya listrik di Jawa Timur pada semester pertama dipastikan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Distribusi Jawa Timur tidak akan terjadi kenaikan. Hal ini disebabkan tingginya inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, dan juga dampak dari penurunan harga minyak dunia.

Deputi Manager Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Jatim Pinto Raharjo, Kamis (6/8/2015), mengatakan tarif listrik untuk bulan selanjutnya akan flat. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan tarif listrik akan turun di sisa semester kedua tahun ini.

Dijumpai di ruang kerjanya kemarin siang, pria kelahiran Blitar Jatim itu menjelaskan pada semester pertama telah terjadi fluktuasi tarif listrik. “Pada bulan Juli tarif listrik sebesar Rp 1.547/kwh, naik menjadi Rp 23 dibanding bulan Juni yang sebesar Rp 1.524/kwh. Sedangkan di bulan Agustus terjadi penurunan sebesar Rp 1/kwh,” kata Pinto.

Ia menegaskan, meski terjadi kenaikan tarif tidak berdampak pada jumlah pelanggan PLN. Sebab sudah menjadi kebutuhan masyarakat, sehingga meskipun tarif listrik naik, kecil kemungkinan akan ada pemutusan dari pelanggan.

PT PLN Distribusi Jatim memiliki data sepanjang semester pertama telah terjadi beberapa kali perubahan tarif listrik. Pada Januari tarif listrik di nominal Rp 1.352/kwh, kemudian naik pada bulan Februari di nominal Rp 1.468/kwh. Namun untuk kategori rumah tangga (RT) di besaran 1.300 watt dan 2.200 watt tarif listrik tidak mencapai kenaikan atau tetap di nominal Rp.1.352/kwh.

Sedangkan bulan Maret tarif listrik turun menjadi Rp 1.426/kwh. “Ini merupakan penurunan pertama dan sekaligus yang terjakhir pada semester I, karena di bulan selanjutnya tarif listrik selalu naik,” lanjutnya. Dia menambahkan. pada bulan April yang mencapai Rp 1.465/kwh, bulan Mei Rp 1.514/kwh dan yang terakhir adalah bulan Juni mencapai Rp 1.524/kwh.

Hingga saat ini PLN Jawa Timur telah memproduksi 8.600 mega watt (MW). Sedangkan untuk beban puncak konsumen di angka 4.900 MW. Untuk kelebihan ini akan disalurkan ke Bali karena adanya interkoneksi PLN Jawa-Bali. (wh)