PLN Jatim Terjunkan Tim Survei TDL

PLN Jatim Terjunkan Tim Survei TDL
Humas PT PLN (Persero) Distribusi Jatim Pinto Raharjo. foto: arya wiraraja/enciety.co

Perusahaan Listrik Negara (PLN) berencana untuk mengubah Tarif Dasar Listrik (TDL) bagi katagori masyarakat miskin dan rentan miskin di Jatim. Rencananya, pemerintah pusat akan memberikan subsidi listrik dengan cara tertentu. Sehingga, untuk tarif listrik bertenaga 1300 Volt Amper (VA) dinaikkan, sementara untuk tenaga 450 VA hingga 900 VA diberikan subsidi kepada para pelanggan.

Untuk tarif listrik 900 VA akan berubah menjadi Rp 1.409, sedangkan tarif listrik 500 VA ke bawah akan berubah menjadi Rp 605. Hal ini dilakukan Pemerintah bagi masyarakat miskin dan rentan miskin yang ada di Jawa Timur.

Humas PLN Jatim Pinto Raharjo mengatakan jika untuk mengidentifikasi masyarakat miskin dan rentan miskin, PLN akan menurunkan tim survei hingga tingkatan kantor rayon di wilayah Jatim.

“Saat ini, menurut data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) berbeda 24,7 juta warga miskin nasional. Namun PLN memiliki data 44 juta warga miskin. Data tersebut merupakan data internal PLN yang diambil dari data pelanggan PLN dengan tenaga 450 VA hingga 900 VA. Komparasi data ini kami lakukan untuk dapat menyalurkan program subsidi kepada masyarakat hingga tepat sasaran,” jelas dia ketika ditemui enciety.co di kantornya,  Jalan Embong Trungguli Surabaya, Selasa (26/1/2016).

Ia mengungkapkan, jika adanya selisih data yang ada antara data TNP2K dengan data pelanggan PLN disebabkan karena pada tahun 2016, data yang dimiliki PLN belum dimutakhirkan secara detail.

Menurut data TNP2K, para pelanggan di Jatim yang menggunakan daya listrik 900 VA sebanyak 497 ribu. Sedangkan data pelanggan dengan daya 900 VA tercatat 3,6 juta.

“Data yang dimiliki PLN saat ini masih data pelanggan beberapa tahun lalu. Mereka yang memasang listrik dengan tegangan 450 VA hingga 900 VA tersebut barangkali telah menjadi warga yang telah mampu. Untuk itu, jika dalam proses komparasi data ditemukan hal tersebut, maka subsidinya akan dialihkan pada mereka yang kurang mampu,” urai Pinto.

Dia menyebutkan, jika proses survei pencarian dan komparasi data tersebut telah dilakukan mulai 21 Januari 2016 lalu. “Kami targetkan proses ini akan berakhir pada Maret 2016 mendatang. Saat ini, kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan semua prosesnya,” tutur dia.

Pinto mengungkapkan, ada beberapa indikator yang dipakai, di antaranya aktiva tetap yang tidak dapat dijual sebesar Rp 500 ribu. “Selain itu kami juga menghitung penghasilan perbulan dibawah Rp 900 ribu, dan juga kami akan melakukan survei pada dinding rumah tempat tinggal mereka,  jika belum menggunakan tembok, maka dapat dikatakan mereka adalah masyarakat miskin dan rentan miskin,” tandas dia. (wh)