PJB Bangun PLTA di Blitar

PJB Bangun PLTA di Blitar

PT Pembangkit Jawa Bali (PJB) terus melakukan optimalisasi kinerja dengan menambah kapasitas terpasang di berbagai pembangkit di wilayah kerjanya, termasuk di Unit Pembangkitan Brantas. Tahun depan, ada dua Pembangkit Tenaga Air (PLTA) yang akan dioptimalkan atau ditambah kapasitasnya dan satu PLTA baru yang akan dibangun.

Dua PLTA tersebut adalah PLTA Sutami di kabupaten Malang dari kapasitas eksisting sebesar 3×35 Mega Watt (MW) akan ditambah sebesar 2X50 MW. Sementara PLTA Ludoyo Blitar diperbesar dari kapasitas terpasang 4,7 MW ditambah 1X9 MW. Sedangkan PLTA yang akan dibangun adalah PLTA Kesamben di Blitar dengan kapasitas 2×18 MW.

General Manager PT PJB UP Brantas, Wisrawan Wahyu Wibowo menuturkan, saat ini total PLTA yang dikelolah UP Brantas yang tersebar di lima kabupaten, yaitu Malang, Blitar, Tulungagung, Madiun dan Ponorogo mencapai 13 PLTA dengan total kapasitas 291 MW. Dengan penambahan tersebut, maka nantinya akan ada 14 PLTA dengan total kapasitas 346 MW.

Upaya tersebut dilakukan karena sebenarnya potensi air yang ada di beberapa waduk yang dikelolah UP Brantas masih cukup besar dan bisa dikembangkan. Di Waduk Sutami misalnya, potensi air yang mengalir melalui sungai Brantas mencapai 146 meter kubik per detik.

“Ada delapan waduk untuk menampung air sebagai sumber daya untuk pengoperasian PLTA-PLTA tersebut. Ke delapan waduk tersebut diantaranya adalah waduk Selorejo, Wonorejo, Lodoyo, Wlingi, Sengguruh, Sutami dan Lahor Dam,” ujar Wisrawan Wahyu ketika dikonfirmasi, Selasa (3/12/2014).

Menurutnya, selama masyarakat mau menjaga hutan, maka kemungkinan besar air yang masuk ke waduk bisa terjaga dan tidak akan berkurang. Karena hal paling berdampak negatif terhadap suplai air di waduk adalah penebangan hutan. Sedimentasi, ujarnya, akan terjadi jika masyarakat melakukan pembangunan atau perubahan pola tanam dengan menebang pohon.

“Kondisi ini terjadi di PLTA Sengguru. Saat ini sedimentasi sudah mencapai 90% sehingga produksi listrik disana hanya mencapai 20% hingga 30% dari kapasitas awal sebesar 36.000 Kwh. Ini terjadi sejak tahun 2007,” katanya.

Untuk itu, ia berharap, masyarakat sekitar mau memikirkan kelangsungan air waduk dengan melestarikan hutan. Tidak hanya untuk produksi listrik, karena air yang ada di waduk tersebut juga untuk mengaliri persawahan atau irigasi pertanian di wilayah itu. (wh)