Pimpin Upacara 10 November, Jokowi Sematkan 5 Gelar Pahlawan Nasional

Pimpin Upacara 10 November, Jokowi Sematkan 5 Gelar Pahlawan Nasional
Presiden Joko Widodo (Jokowi), usai menjadi Inspektur Upacara pada Peringatan Hari Pahlawan Tahun 2015 di Tugu Pahlawan Surabaya, Selasa (10/11/2015).

Pada Upacara Peringatan Hari Pahlawan 2015, Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang hadir sebagai Inspektur Upacara mengatakan, jika Indonesia berada di awal perubahan. Perubahan ke arah penguatan pondasi pembangunan nasional. Perubahan agar pembangunan yang dijalankan membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

“Kedepan, masyarakat Indonesia harus mampu menonjolkan nilai-nilai ke-Indonesiaannya. Jadi bukan lagi nilai-nilai kedaerahan, seperti Jawa sentris dan lain sebagainya. Perubahan ke arah kebebasan berpendapat yang konstruktif dan merajut persatuan nasional bukan menghasut yang dapat memicu konflik horizontal dan golongan,” paparnya.

Untuk memicu kembali semangat Nasionalisme, pada Upacara Hari Pahlawan Tahun 2015, Presiden Jokowi memberikan gelar pahlawan nasional kepada lima orang tokoh pejuang kemerdekaan. Kelima tokoh tersebut memenuhi syarat pahlawan nasional sesuai UU Nomor 20 Tahun 2009 tentang gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan.

Hal ini dilakukan agar masyarakat mampu melihat pengorbanan dan teladan atas apa yang dilakukan oleh para Pahlawan agar bangsa dan negara Indonesia ini dapat berdiri hingga saat ini.

Adapun lima nama itu adalah Bernard Wilhem Lapian dari Sulawesi Utara, Kemudian Mas Isman yang pernah membentuk organisasi pelajar bersenjata (TRIP); Komjem Pol Moehammad Jasin dari Jawa Timur yang merupakan bapak Brimob Indonesia; I Gusti Ngurah Made Agung yang merupakan Raja Badung VII, Bali. Kemudian, Ki Bagus Hadikusumo merupakan tokoh Muhammaddiyah yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah (1942-1953).

Upacara Hari Pahlawan Tahun 2015 juga diwarnai dengan pembacaan pesan-pesan dari enam pahlawan kemerdekaan. Pesan dari enam pahlawan ini dibacakan secara bergantian dalam upacara yang dipimpin langsung oleh Joko Widodo, Presiden. Enam pesan pahlawan yang dibacakan adalah dari Jenderal Sudirman, Pahlawan Revolusi yang mengatakan, bahwa tempat yang terbaik adalah di tengah-tengah anak buah, saya akan meneruskan perjuangan, Met of Zonder Pemerintah TNI akan berjuang terus.

Selain itu juga ada pesan dari Supriyadi, pemimpin tentara Pembela Tanah Air (Peta) yang mengatakan, bahwa kita yang berjuang jangan sekali sekali mengharapkan pangkat, kedudukan ataupun gaji yang tinggi.

Lantas, ia juga membacakan pesan dari Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Pangeran Sambernyawa yang mengatakan, bahwa mulat sarira hangrasawani, rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkebi (berani mawas diri, merasa ikut memiliki, wajib ikut memberikan pembelaan).

Tidak ketinggalan pula, pesan dari Bung Tomo saat perang 10 November juga dibacakan. Yaitu, selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah dan putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga. Kita tunjukken bahwa kita ini benar-benar orang-orang yang ingin merdeka.

Ada juga pesan dari Gubernur Suryo yang menjadi Gubernur Pertama di Jawa Timur. Berulang-ulang telah kita katakan, bahwa sikap kita ialah lebih baik hancur daripada dijajah kembali.

Dan terakhir, yang dibacakan dalam upacara kali ini adalah pesan dari pahlawan proklamasi Soekarno yang mengatakan bahwa, beri aku Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.

Pesan-pesan pahlawan ini dibacakan secara bergiliran oleh perwakilan dari DHD 45 serta perwakilan dari beberapa pelajar SMA dan SMP di Surabaya.

Setelah upacara, Presiden RI Jokowi menyerahkan bingkisan kepada 208 orang Veteran dan Perintis Kemerdekan. (wh)