Picturing America, Wajah Paman Sam di De Javasche Bank

Picturing America, Wajah Paman Sam di De Javasche Bank
Konsul Jenderal AS, Joaquin Monserrate (kanan) dan Kepala Kanwil IV Bank Indonesia, Dwi Pranoto mengamati lukisan karya Emanuel Leutze berjudul Washington Crossing the Delaware di pameran Picturing America, Selasa (15/4/2014)

Amerika Serikat mengukir sejarah budaya, kesenian, dan ekonomi yang panjang. Kepingan-kepingan sejarah itu tertuang dalam setiap karya-karya seni yang menggambarkan peristiwa-peristiwa nasionalnya. Untuk berbagi spirit dinamika negaranya, Konsulat Jenderal (Konjen) Amerika Serikat Surabaya membuka pameran Picturing America di gedung de Javasche Bank, Selasa (15/4/2014). Pameran itu dibuka oleh Konsul Jenderal AS, Joaquin Monserrate dan Kepala Kanwil IV Bank Indonesia, Dwi Pranoto.

Sebanyak 40 karya seni dan foto itu terbingkai rapi di gedung yang berusia hampir 200 tahun, cikal bakal Bank Indonesia pertama di Indonesia. Repro karya seni dan foto-foto yang dipajang merupakan koleksi The National Endowment for the Humanities (NEH). Joaquin mengungkapkan, Picturing America disusun mulai masa kemerdekaan di abad ke-18 hingga tahun abad ke-21.

Pria yang juga berprofesi sebagai pengacara itu mengajak menyusuri beberapa karya bersejarah. Joaquin menuju foto presiden pertama AS, Abraham Lincoln karya Alexander Gardner pada tahun 1865. “Ini adalah foto pertama presiden pertama kami. Pertama kalinya dia dipotret menggunakan kamera,” ujarnya. Foto itu pun menjadi potret terakhir Abraham Lincoln, karena pada 15 April di tahun yang sama ia meninggal dunia.

Pada masa itu, lanjut Joaquin, di AS tengah berkecamuk perang sipil. “Jadi negara bagian utara menentang perbudakan. Sedangkan yang selatan, masih melakukan praktik perbudakan. Waktu itu masa-masa yang sulit. Lihat, presiden kami juga tampak kusut dan lelah. Situasinya kacau,” katanya seraya menunjuk raut muka Abraham Lincoln.

Ia kemudian menunjukkan salah satu karya seri dokumenter berjudul Migrant Motehr and Children karya fotografer Dorothea Lange. Joaquin mengatakan, sosok ibu dengan 2 anak tersebut merupakan gambaran buruh tani di tahun 1936, masih di masa Great Depression. “Buruh tani saat itu tergantung musim dan berpindah-pindah,” kisahnya.

Joaquin berharap, Picturing America dapat memberikan gambaran perjalanan AS dari masa ke masa. “Kami juga pernah mengalami masa-masa perang, krisis moneter seperti Great Depression, saat-saat sulit. Tidak jauh berbeda dengan Indonesia,” tandasnya.

Setali tiga uang, Kepala Kanwil IV Bank Indonesia, Dwi Pranoto mengatakan, pameran ini diperuntukkan bagi orang-orang yang mencintai sejarah, budaya, dan kesenian. “Melalui Picturing America, kami ingin BI menjadi contoh instansi yang punya perhatian sosial besar. Sebab gedung ini (de Javasche Bank, Red) sangat bersejarah di bidang kebudayaan, musik, dan ekonomi,” pungkasnya.

Pameran Picturing America ini akan berlangsung mulai 15 – 29 April 2014. (wh)