PHE WMO Bagi Penghargaan untuk Vendor Berprestasi

PHE WMO Bagi Penghargaan untuk Vendor Berprestasi
Fasilitas rig PHE WMO lepas pantai. sumber foto: enegitoday

Kendati terjadi penurunan alokasi anggaran capital expenditure (Capex)
dan operation expenditure (Opex) di sebagian korporasi hulu migas, termasuk PT  PHE WMO, tapi unsur health, safety and environment (HSE) tetap harus memperoleh perhatian tinggi dan menempati skala prioritas pertama.

PHE WMO bahkan menargetkan bisa meraih kembali Proper Hijau pada tahun 2015 ini, dan Proper Emas pada tahun 2016 kelak. Target tahun 2015 itu diipatok setelah PHE WMO meraih Proper Hijau pada 2013 dan 2014.

“Mohon dukungan para vendor tahun  depan PHE WMO mampu mencapai proper emas,” kata Vice President  PT PHE WMO, Boyke Pardede saat Vendor Consultation Forum 2015 di Mandira Ballroom Gedung Sasana  Kriya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Selasa (21/4/2015).

Kegiatan ini diikuti sekitar 150 vendor dari Jakarta, Jatim, Bandung, Ujungpandang dan kota lainnya di Indonesia. Pada kesempatan itu PHEWMO memberikan penghargaan pada para vendor yang dinilai berprestasi.

Para vendor penerima penghargaan itu antara lain PT Clariant (The Best Safety Performance Award), PT Paka Mitra (The Best Supplier  Performance Award) , PT Krisvita Sandwipa Putra (The Best Supplier  Performance Award for East Java Region), CV Nangkano Karya Pratama (The Best HSE Improvement Award), dan PT Triguna Mandala (The Best Service Performance Award).

Selain membagikan penghargaan, pada acara ini juga disampaikan berbagai hal tentang berbagai regulasi baru tentang bisnis hulu migas di Tanah Air, procurement,  HSE, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dalam bisnis migas, pentingnya audit  kepatuhan oleh para vendor, dan lainnya.

“Mengingat harga minyak sekarang ini turun 50% dibanding pertengahan tahun 2014  yang pernah mencapai lebih dari USD 100 per barel, maka kita mampu kerja dengan  baik kalau antara PHE WMO dan rekanan ada kerja sama untuk mencari jalan  keluar atas kondisi makro ini,” tambah Boyke.

Secara terbuka, Boyke mengatakan bahwa aktifitas proyek maupun kegiatan  pendukung lainnya di PHE WMO 70% sampai 80% harus bersinergi dengan vendor. “Makanya kita mesti sinergi. Karena harga minyak turun sekitar 50% dibanding Juni  2014, ada sejumlah proyek ditunda pelaksanaannya pada 2015 dan 2016  mendatang,” jelasnya.

Tak hanya PT Pertamina dan sejumlah anak perusahaannya yang memotong capex  dan opex seiring jebloknya harga minyak mentah di dunia. Korporasi hulu migas  lainnya di dunia mengambil langkah serupa.

Dicontohkan, ExxonMobil memotong alokasi anggaran untuk belanja modal sebesar USD 34 miliar atau 12% dibanding tahun lalu. Chevron  (produsen minyak mentah terbesar di Indonesia) memotong alokasi anggarannya  13% dibanding tahun lalu atau setara USD 35 miliar, Shell Belanda memotong USD  15 miliar, Total Perancis memotong USD 2 miliar atau 30% dibanding tahun lalu.

“Untuk PHE WMO terjadi pemotongan capex sebesar 45% dan opex sebesar 10% dibanding tahun lalu (2014),” kata Boyke.

Pada bagian lain, Boyke menyampaikan terima kasih atas dukungan para vendor sehingga PHE WMO menerima penghargaan the Best Reporting dari SKK Migas pada acara Indonesia SCM Summit 2015 di Jakarta Convention Centre yang diserahkan langsung oleh Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi.

Penghargaan tersebut diterima karena PHE WMO adalah KKKS terbaik yang mampu menyampaikan laporan dengan kriteria ketepatan waktu, ketepatan data dan kelengkapan laporan.

“Penghargaan itu bisa kami capai berkat dukungan dan kerjasama para vendor. Kami harapkan terus kerjasamanya dan dukungannya agar kinerja PHE WMO bisa kian baik,” katanya. (wh)