Petani Cabe Rawit Jatim Perlu Pendampingan Teknik Budidaya

Petani Cabe Rawit Jatim Perlu Pendampingan Teknik Budidaya

 

Pemprov Jatim diminta memberikan pendampingan kepada petani cabe rawit agar bisa meningkatkan teknik budidaya tanaman cabe rawit menjadi lebih intensif. Ini mendesak dilakukan karena sejauh ini teknik budidaya yang mereka lakukan sangat tradisional. Dampaknya, produksi sangat rendah dan cabe rawit rentan rusak akibat hujan dan hama.

Ketua Asosiasi Agrobisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim Sukoco mengungkapkan, saat ini produktivitas tanaman cabe rawit di Jatim rata-rata masih di kisaran 5 ton per hektar.

“Padahal jika diolah menggunakan teknik budidaya yang lebih intensif dengan pemilihan bibit unggul yang disesuaikan dengan musim, maka produktivitas bisa ditingkatkan menjadi sekitar 10 ton hingga 12 ton per hektar,” katanya, Rabu (5/3/2014).

Menurut dia, kerusakan akibat hujan malam juga bisa diminimalisir karena budidaya sudah menggunakan mulsa atau plastik penutup tanah yang bisa menahan penguapan.

“Hampir seluruh petani cabe rawit  masih tradisional, mereka belum mengenal penggunaan mulsa. Pemilihan benih juga tidak dilakukan secara selektif yang disesuaikan dengan musim. Padahal disaat musim penghujan, harusnya petani memilih benih cabe yang tahan hujan,” tandas Sukoco.

Sebenarnya, sambung dia, produksi cabe rawit di Jatim sudah mencukupi kebutuhan masyarakat. Di Jatim, lahan cabe rawit mencapai sekitar 5.000 hingga 6.000 hektar perbulan dengan tingkat produktivitas sebesar 5 ton per hektar. Hanya saja, di saat musim penghujan, produksi menjadi turun karena banyak yang rusak akibat hujan malam hari.

Kata Sukoco, pihaknya sudah mengajukan kepada Pemrov Jatim dan Kementerian Pertanian untuk program pembinaan petani cabe rawit. Namun sampai saat ini masih belum mendapat tanggapan. Hanya petani cabe besar saja yang sudah mendapatkan pendampingan dalam program sekolah lapang.

“Padahal keberadaan petani cabe rawit di Jatim ini terbilang cukup banyak dan lebih butuh pendampingan agar produksi stabil dan tidak ada gejolak harga yang akhirnya bisa memicu inflasi lebih tinggi,” ujarnya.

Di Jatim, lanjut Sukoco, seluruh kabupaten kota menjadi penghasil cabe rawit. Sementara daerah yang menjadi sentra produksi cabe rawit adalah Kediri, Malang, Blitar, Jember, Banyuwangi, Probolinggo, Trenggalek, Mojokerto dan Nganjuk.

“Walaupun harga saat ini lebih rendah dibanding minggu kemarin, kami masih belum bisa memprediksikan harga tidak akan lagi melambung. Karena hal tersebut tergantung hujan malam hari. Kalau hujan malam terus menerus, ya cabe akan banyak yang rusak dan harga akan melonjak,” katanya.

Namun dalam cacatannya, harga cabe di tingkat petani kemarin sudah berada dikisaran Rp 42 ribu per kilogram, turun dibanding minggu kemarin yang mencapai Rp52 ribu per kilogram.(wh)