Petani Bawang Merah Tolak Komoditi Asing

Petani Bawang Merah Tolak Komoditi Asing

Asosiasi Petani Bawang Merah (APB) Jatim menolak rencana pemerintah memberlakukan impor bawang merah tahun ini. Karena kebijakan tersebut melanggar komitmen dan tidak melindungi petaninya.

Ketua APB Jatim Akad menyebutkan rencana impor telah menyalahi komitmen bersama. Dimana impor bisa dilakukan bila harganya menembus Rp 26.500. Sementara harga bawang merah saat ini baru mencapai Rp 6.000-7.000/ kg.

Akad menegaskan, petani bawang merah harus dilindungi. Masalahnya produksinya untuk konsumsi masyarakat belum kelewat tinggi. Selain itu kualitas komoditas ini yang ada di pasaran nyaris sama.

“Saya kira kalau alasan kualitas kita kalah, itu tidak masuk akal. Padahal bawang merah kita dengan asing tidak ada perbedaan,” tegasnya kemarin petang. Sementara di Jatim saja tahun 2013 kemarin mencapai 540 ribu ton pada musim kemarau.

Angka itu diasumsikan per hektarnya mampu memproduksi 20 ton. Sementara lahan di Jawa Timur mencapai 27 ribu hektar. Sementara pada musim penghujan produktivitas menurun sekitar 378 ribu ton atau turun sekitar 42 persen.

Untuk budidaya bawang merah di 3 wilayah seperti Nganjuk, Bojonegoro, dan Probolinggo bisa mencapai 30 ribu hingga 40 ribu ton per musim tanam. “Kalau untuk wilayah perluasan kami masih belum bisa menghitung. Harusnya, dengan besarnya produksi dan rendahnya harga, pemerintah sudah bisa menilai stok masih mencukupi,” erangnya.

Akad menegaskan alasan impor bawang merah bukan soal produktivitas pada musim hujan saja. Demikian juga dengan terjadinya inflasi pada Agustus lalu yang harga dipasaran mencapai Rp 60.000 per kilogram.

“Kita hanya ingin kesepakatan bersama yang dibuat kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan dipatuhi. Jangan sampai semangat petani jatuh akibat impor yang kualitasnya belum tentu lebih baik dengan bawang lokal,” ungkapnya.

Seperti diketahui, awal tahun ini Kementerian Perdagangan sudah membuka pendaftaran impor bawang merah dan cabe secara online. Pendaftaran dilakukan dengan alasan untuk menekan inflasi akibat kenaikan harga bawang merah dan cabai yang diprediksi terjadi karena musim hujan dan banjir.(wh)