Peta Bisnis 2020 Dibahas di Suara Surabaya Economic Forum

Peta Bisnis 2020 Dibahas di Suara Surabaya Economic Forum

Emil Dardak. foto: arya wiraraja/enciety.co

Suara Surabaya Media kembali menggelar Suara Surabaya Economic Forum (SSEF) di Ballroom Grand City Convex Surabaya 5 Desember 2019 pukul 13.00-21.00 WIB.

Forum diskusi ini menghadirkan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, CEO General Electric Indonesia Handry Satriago, Prof DR Sri Adiningsih (Dewan Pakar Institute of Social Economic and Digital dan Dosen FEB UGM), Agus Nurudin (Managing Director Nielsen Indonesia), dan Kresnayana Yahya (Bisnis Analis dan Pakar Statistik Enciety Business Consult).

Ketua Panitia Suara Surabaya Economic Forum Irma Widya mengatakan, SSEF tahun 2019 mengangkat tema “Economic Bubble Trap: Facing New Challenges”. Ini terkait peta bisnis tahun 2020 dan peluangnya.

“Selain mendapatkan gambaran kondisi ekonomi di Indonesia pada tahun 2020, kemudian apa saja peluang yang bisa diambil. Bagaimana menyikapi kondisi perekonomian global yang sedang mengalami ketidakpastian? Peserta,” kata Irma.

Irma menambahkan, pemilihan tema SSEF tahun ini juga terkait terbentuknya pemerintahan baru pasca Pemilihan Presiden 2019. Seperti diketahui, pada kuartal ketiga tahun ini, Bank Dunia mengeluarkan rilis revisi asumsi pertumbuhan ekonomi global sebesar 0.3 persen dibanding proyeksi awal di tahun. Sementara untuk Indonesia, Bank Dunia memperkirakan ekonomi mengalami perlambatan dengan asumsi pertumbuhan hanya 5 persen.

Di sisi lain, beberapa startup bisnis berbasis digital mendapat status baru sebagai unicorn, bahkan menuju dexacorn. Kucuran dana investasi melalui bisnis berbasis digital mempercepat perubahan perilaku konsumen, menjadi lebih produktif sekalikus menjadi konsumtif.

Dua fenomena kontradiktif ini mewarnai perjalanan ekonomi Indonesia di Tahun 2019. Beberapa pengamat ekonomi digital memberi warning awal akan kemungkinan terjadinya Economic Buble Trap di tahun tahun kedepan, kalau pelaku bisnis tidak fokus pada produktivitas atau cenderung mementingkan valuasi portofolio. (wh)