Peserta Kongres Paliatif Internasional Disambut Bak Pengantin di Balai Kota

Peserta Kongres Paliatif Internasional Disambut Bak Pengantin di Balai Kota

foto: humas pemkot surabaya

Pemerintah Kota Surabaya menyambut istimewa para peserta Kongres Paliatif Internasional 2019 di Balai Kota Surabaya, Sabtu (3/8/2019). Bahkan, penyambutan istimewa itu layaknya pengantin bertajuk gala dinner yang dikhususkan bagi peserta Asia Pasific Hospice and Palliative Care Conference (APHC) 2019.

Sebelum memasuki halaman Balai Kota Surabaya, para peserta disambut kesenian reog disertai karpet merah yang memanjang hingga memasuki halaman Balai Kota Surabaya. Bahkan, ketika sudah memasuki Balai Kota Surabaya, mereka juga disambut layaknya pengantin, pintu gerbangnya terdapat janur kuning melengkung di dua sisinya, obor serta payung emas melengkapinya, Cak dan Ning pun menyambutnya.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebagai tuan rumah turut menyambut para peserta ini di pintu masuk halaman Balai Kota Surabaya. Sedangkan di Taman Surya, sudah disediakan berbagai macam makanan khas Surabaya, mulai dari soto ayam, sate ayam dan kelopo, rawon, bakso hitam, gado gado, nasi kuning, nasi kebuli, semanggi, kikil lontong dan minuman produk usaha kecil menengah (UKM) Surabaya.

Semua peserta nampak menikmati makanan khas Surabaya ini. Setelah menikmati sajian makanan, mereka kemudian dihibur dengan berbagai macam atraksi di panggung gala dinner. Suasana Taman Surya depan Balai Kota Surabaya pun sejuk dan segar, sehingga penyambutan tamu-tamu dari berbagai mancanegara itu semakin sempurna.

Ibam, seorang bocah tunanetra juga memberikan penampilan terbaiknya dengan menyanyikan lagu sambil jari-jemarinya memencet lembut organ yang telah dipersiapkan. Tepuk tangan pun menggema kala itu. Musik angklung yang dimainkan oleh anak-anak Surabaya juga menyita perhatian para peserta yang hadir.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Febria Rachmanita mengaku bersyukur penyelenggaraan kongres berjalan lancar dan menyisakan satu hari besok. Kongres yang digelar mulai 1-4 Agustus 2019 itu diikuti oleh para ahli paliatif dari 26 negara di belahan dunia.

“Alhamdulillah semuanya berjalan lancar sesuai rencana, tinggal besok mungkin ada pembahasan sedikit lalu selesai,” kata Febria ditemui di sela-sela mengikuti gala dinner di Balai Kota Surabaya.

Menurut dia, kongres ini semakin mengukuhkan Kota Surabaya sebagai Kota Paliatif pertama di Indonesia. Alhasil, dengan adanya kongres ini maka Kota Surabaya bisa lebih dikenal di penjuru dunia.

“Itu artinya, bidang kesehatan di Kota Surabaya juga diakui dunia,” ujarnya.

Febria menjelaskan Pemkot Surabaya melalui Dinkes terus berkomitmen dalam upaya melakukan perawatan paliatif kepada pasien. Pemkot memiliki berbagai program khusus perawatan paliatif, seperti HHC (Hospice Home Care) yakni melakukan perawatan langsung ke rumah-rumah pasien, pelayanan paliatif di 63 puskesmas, hingga pemberian susu dan makanan tambahan bagi pasien paliatif.

Selain itu, pasien paliatif di Surabaya yang rumahnya masih kumuh dan belum sehat juga dilakukan rehab.

“Kita juga punya Taman Paliatif di Surabaya, setiap Sabtu dan Minggu rutin kegiatan untuk pasien-pasien paliatif serta beberapa rumah sakit pemerintah dan swasta di Surabaya juga sudah melakukan layanan paliatif,” pungkasnya. (wh)

Berikan komentar disini