Pertumbuhan 7,6 Persen, Surabaya Siap Menghadapi AEC 2015

Pertumbuhan 7,6 Persen, Surabaya Siap Menghadapi AEC 2015

ASEAN Economic Community (AEC) bakal diberlakukan pada 2015. Surabaya memastikan siap menyosong agenda tersebut Hal itu cukup realistis mengingat tren pertumbuhan ekonomi di Kota Pahlawan sangat menjanjikan.

Hal itu ditegaskan Asisten III Sekkota Surabaya Hadisiswanto Anwar dalam “Diseminasi Surabaya Menghadapi AEC 2015” di Ruang Pola Bappeko, Kamis (6/2/2014).

Ada enam pembicara hadir, antara lain Senior Officer Finance Integration Division pada Sekretariat ASEAN Bambang Irawan, Kasubdit Perindustrian dan Perdagangan Kemenlu Lingga Setiawan, Kabid ASEAN Pusat Kebijakan Regional dan Bilateral Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu Dalyono, Direktur Kerjasama ASEAN pada Kemendag Djatmiko Wijtaksono, Dirjen PAUDNI Kemendikbud Lydia Freyani Hawadi, serta Kasubdit Kerjasama Regional ASEAN Dirjen Kerjasama Regional pada Badan Koordinasi Penanaman Modal Amri Zuhdi.

Hadi lalu menjelaskan, pada 2010, pertumbuhan ekonomi Surabaya tercatat pada angka 5,11 persen. Tahun berikutnya, capaian tersebut meningkat cukup signifikan menjadi 7,35 persen.

“Sedangkan pada 2012, Surabaya berhasil mencapai pertumbuhan sebesar 7,64 persen,” ungkap pejabat senior di kalangan Pemkot Surabaya tersebut.

Pemkot Surabaya, sambung dia, sudah melaksanakan sejumlah upaya, salah satunya sarana Rumah Bahasa. Di sana masyarakat dapat belajar berbahasa asing secara gratis. Rumah Bahasa juga terintegrasi dengan klinik jasa dan perdagangan, koperasi dan UMKM, ketenagakerjaan, dan investasi.

“Diharapkan, melalui klinik-klinik tersebut masyarakat mendapat akses seluas-luasnya seputar dunia usaha,” tukasnya.

Hadi berpendapat, kita harus siap menghadapi tantangan ini. Oleh karenanya, warga Surabaya harus bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujarnya.

Bambang Irawan menjelaskan, secara umum AEC adalah kelanjutan dari integrasi ekonomi mengubah ASEAN  menjadi pasar tunggal dan sumber produksi mulai 2015.

Kata dia, kesepakatan ini memiliki empat pilar utama. Yakni, produksi berbasis pasar tunggal, ekonomi regional yang kompetitif, pengembangan perekonomian yang merata, dan integrasi dengan perekonomian global.

“Arus transaksi nanti akan difokuskan pada 12 sektor prioritas yang terbagi dalam 7 sektor barang dan 5 sektor jasa. Kedua belas sektor prioritas tersebut, mau tidak mau, menuntut kesiapan sumber daya manusia,” tegasnya.

Sementara, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Agus Imam Sonhaji menerangkan, Diseminasi Surabaya Menghadapi AEC 2015 ini merupakan salah satu langkah awal. Tujuannya, untuk menyamakan pikiran dan pandangan tentang bagaimana menghadapi era perdagangan bebas tahun depan.

Menurut Agus, agar mampu bersaing dalam AEC dibutuhkan strategi-strategi khusus. “Nah, itulah yang perlu dirumuskan bersama. Makanya, dalam diseminasi ini kami fokuskan pada internal pemkot dulu supaya solid dan mantap,” tuturnya.(wh)