Pertaruhan Harga Diri

 

Pertaruhan Harga Diri

*Hary Mega Gancar Prakosa ( harymega @ gmail. com )

20 kunci jawaban untuk 20 macam soal. Luar biasa! Seandainya ada 100 macam soal, barangkali juga akan ada 100 kunci jawaban. Semuanya sudah disiapkan. Berikut tips menggunakannya. Lalu, apalagi yang harus dikhawatirkan dari bangsa ini?

Bukankah ini semua menunjukkan betapa cerdik pandainya generasi muda kita? Betapa kuat “tekad”-nya. Tekad yang kuat dan kecerdikan saya rasa sudah cukup menjadi modal untuk menjadi bangsa yang maju. Bukankah begitu? Mari kita sedikit bermain logika.

Generasi muda kita sungguh cerdik dan kuat tekadnya.

Pencuri itu sungguh cerdik dan kuat tekadnya.

Generasi muda kita adalah pencuri?

Tentu tidak mudah untuk menyimpulkannya. Tapi saya rasa ada satu kesamaan antara pencuri dan generasi muda kita, yaitu rendahnya harga diri. Kalau boleh saya bilang, generasi muda kita adalah para pencuri prestasi.

Saya jadi ingat film 47 Ronin. Satu pelajaran penting dari film itu adalah bahwa seorang Samurai pantang mencuri prestasi. Tak selayaknya seorang Samurai berbangga dan menikmati prestasi yang bukan miliknya. Samurai adalah satria yang memiliki harga diri tinggi. Bahkan saking tingginya, satu kesalahan memalukan berani mereka tebus dengan mengakhiri hidupnya sendiri: harakiri. Lebih baik mati terhormat daripada hidup memalukan.

Mencontek kerjaan teman saat ujian atau melihat kunci jawaban secara ilegal adalah bentuk dari mencuri prestasi. Apa yang bisa dibanggakan dari nilai 100 kalau ternyata itu bukan kerjaan sendiri? Apa yang pantas dirayakan dari status “LULUS” kalau itu hasil menjiplak kunci jawaban? Apalagi merayakannya dengan corat-coret seragam sekolah lalu konvoi urakan. Apakah para siswa-siswi ini tidak malu? Tidakkah ada perasaan bersalah ketika mereka melirik kerjaan teman? Tidakkah ada yang menggelisahkan hati mereka saat melihat kunci jawaban? Atau gelisah mereka hanya saat tidak punya pacar? Poin pertama yang bermasalah dalam pendidikan adalah rendahnya harga diri siswa.

***

Dragon Zakura dan Laskar Pelangi. Sepertinya dua film ini harus sering-sering diputar di depan kelas. Lumayan untuk hiburan sekaligus pelajaran buat para siswa. Bahwa semangat belajar itu harus ada. Bahwa harga diri yang tinggi itu penting untuk dimiliki.

Dragon Zakura mengisahkan tentang 6 orang siswa SMA yang belajar mati-matian untuk bisa masuk perguruan tinggi. Mati-matian karena itu adalah pertaruhan harga diri mereka yang selama ini dikenal bodoh dan tak punya harapan. Perjuangan untuk membuktikan bahwa dengan belajar sungguh – sungguh mereka juga bisa bersaing dan sukses.

Sementara Laskar Pelangi bercerita tentang anak-anak desa yang begitu tinggi semangat belajarnya. Fasilitas yang terbatas tidak menyurutkan semangat mereka untuk belajar. Belajar adalah sesuatu yang menyenangkan buat mereka.

Dua film ini saya rasa bagus sekali untuk ditonton. Jauh lebih baik daripada acara joget-jogetan tidak jelas yang sering diputar di televisi saat ini. Atau acara gojegan (guyonan/lawakan) yang setiap hari diputar saat prime time itu. Prime time seharusnya diisi dengan acara-cara berkualitas. Dan saya rasa pemilik televisi-televisi swasta itu tak perlu lagi dijelaskan apa itu arti kualitas!

Berbicara soal kualitas, percayakah Anda kalau ternyata masih ada siswa SMP yang belum lancar membaca? Saya dulu tidak percaya. Seharusnya Anda juga tidak percaya. Bagaimana Anda bisa percaya sedangkan membaca sendiri sudah diajarkan sejak anak-anak masih duduk di bangku TK?

Bagaimana mungkin siswa SMP belum lancar membaca sementara dia harus menjawab soal ujian nasional sekolah dasar yang semuanya wajib dia baca? Lucu kalau Anda percaya. Tapi itulah yang sebenar-benarnya terjadi. Anda harus percaya karena saya mendengarnya langsung dari seorang guru matematika di salah satu SMP negeri. Siswa yang belum lancar membaca itu adalah murid beliau sendiri. Kalau membaca saja masih gagap, bagaimana mau mengajari mereka matematika? Susahnya setengah mati. Itulah yang dirasakan beliau. Tapi susah payah beliau sepertinya tidak dirasakan murid-muridnya. Banyak dari mereka yang santai saja. Tak ada semangat belajar. Tak ada susah payah mendapatkan nilai bagus. Dan memang mereka tidak perlu susah payah karena sekolah sudah menjamin nilai minimal 7 buat mereka! Semalas-malasnya mereka belajar. Betapapun bodohnya mereka.

Jaminan angka 7 dan naik kelas itu sudah ada di depan mata. Alasannya adalah untuk kebaikan citra sekolah. Kebaikan semu. Lagi-lagi soal harga diri. Dimanakah harga diri sekolah? Apakah yang bisa dibanggakan dari prestasi semu? Apakah yang bisa didapatkan dari citra fatamorgana ini? Apakah dengan banyaknya siswa yang lulus sekolah? Apakah dengan gelar sekolah favorit? Apakah dengan banyaknya siswa baru yang mendafar? Dari sini saya tahu, poin kedua yang bermasalah dalam pendidikan adalah kebijakan rendah sekolah.

Galau. Itu yang dirasakan beliau sehingga beberapa kali pernah curhat ke saya. Dan betapa terkejutnya saya setelah tahu kebijakan sekolah yang murah hati ini disetujui banyak pengajar. Guru yang dalam kereta basa adalah digugu lan ditiru, ternyata mengamini kebijakan yang seharusnya tidak digugu apalagi ditiru ini. Para guru yang “murah hati” ini telah membolehkan siswa mereka berbangga dengan prestasi yang sejatinya bukan milik mereka. Para guru yang “baik hati” ini tidak mengajarkan siswa mereka untuk memiliki harga diri yang tinggi. Pertanyaannya adalah, berapa banyak guru-guru yang “murah hati” seperti ini? Poin ketiga yang bermasalah dalam pendidikan adalah guru yang “pemurah”.

Dragon Zakura juga cocok ditonton para guru. Salah satu tokoh sentral dalam film ini adalah seorang pengacara yang terpaksa menjadi guru bagi 6 siswa SMA tersebut. Pengacara ini akan mengajarkan bagaimana seharusnya menjadi guru sejati. Mengajar dengan hati. Guru yang tidak sungkan untuk memarahi dan menghukum siswanya. Guru yang tidak sungkan memberikan nilai E. Guru yang tidak cuma memberikan pelajaran di depan kelas tanpa paham permasalahan siswanya. Guru yang totalitas.

****

Poin keempat yang bermasalah dalam pendidikan adalah orang tua yang tidak serius memperhatikan pendidikan anaknya.Keluarga, bagaimanapun juga memegang peran paling penting dalam pendidikan seorang anak. Dalam keluargalah mental seorang anak dibentuk. Seorang yang tidak peduli dengan kebersihan, misalnya, kalau Anda lihat besar kemungkinan orang tuanya juga tidak peduli dengan kebersihan. Anak kecil yang misuhan (suka mengumpat) besar kemungkinan karena orang tuanya juga suka misuhan. Dan anak yang malas belajar besar kemungkinan karena orang tuanya juga tidak pernah menuntut anaknya untuk giat belajar. Dengan kata lain, keluarga tidak menunjang kebiasaan positif untuk pendidikan anak.

Dalam kasus pelajaran sekolah, banyak orang tua yang puas dengan pendidikan anaknya hanya dengan melihat nilai rapor. Padahal, nilai rapor itu nisa jadi adalah “buatan” sekolah yang rendah tadi. Orang tua tidak serius memperhatikan perkembangan pendidikan anaknya.

Siswa, sekolah, guru, dan orang tua. Itulah 4 komponen utama dalam pendidikan yang tidak bisa dipisahkan. Tidak mungkin buruknya pendidikan diperbaiki hanya dengan mengubah kurikulum atau menyiasati soal ujian. Perbaikan yang lebih menyeluruh yang meliputi 4 komponen itu harus dilakukan. Intinya, bagaimana mengangkat lagi harga diri masyarakat kita. Tidak mudah memang, tapi bukan tidak mungkin. Yah, paling tidak dari yang kecil dulu. Nonton Dragon Zakura dan Laskar Pelangi. (*)

*Peneliti Enciety Business Consult