Pertamina Uji Coba LNG jadi Bahan Bakar Truk

 

Pertamina Uji Coba LNG jadi Bahan Bakar Truk

PT Pertamina (Persero) melakukan uji coba penggunaan gas alam cair (LNG) sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Uji coba itu dilaksanakan terhadap truk-truk pengangkut BBM milik Pertamina. “Ini untuk pertamakalinya dilakukan untuk kendaraan jenis truk di Indonesia. Sebelumnya pernah dilakukan uji coba serupa di Badak, tetapi untuk kendaraan jenis bus. Uji coba LNG untuk kendaraan bus itu juga pertama kali di kawasan Asean,” ujar Direktur Pemasaran Pertamina Hanung Budya, saat meresmikan uji coba tersebut di Terminal BBM Pertamina, Balikpapan, Kaltim, Senin (27/10/2014).

Menurut Hanung, uji coba penggunaan LNG untuk kendaraan itu juga sedang dilakukan terhadap peralatan tambang milik PT Indominco Mandiri dan PT Berau Coal.

Konversi dari BBM ke BBG ini, ujar Hanung, memang harus dilakukan. Karena ke depan produksi BBM akan selalu tekor dan akibatnya Indonesia harus selalu impor. “Ini adalah produk gas ketiga, LNG, dan belum banyak negara melakukan. Asean kita pelopornya dan kita sangat serius melakukan ini (konversi-red),” tegas Hanung.

Berdasarkan data yang dimiliki Pertamina, jumlah kendaraan truk angkutan berat dan bis yang beroperasi saat ini berkisar antara 1,5 juta hingga 1,6 juta unit. Jika dari jumlah total itu diasumsikan hanya 500 ribu unit truk, bis, dan angkutan barang lainnya diikutkan dalam program konversi BBM ke gas atau LNG, maka Hanung optimistis, Indonesia akan mampu melakukan penghematan BBM dan sekaligus anggaran negara yang sangat besar. “Misalnya kita asumsikan yang dikonversikan itu adalah 100 liter BBM jenis solar per hari per kendaraan, maka itu akan menimbulkan penghematan yang signifikan dari sisi komersial,” ujarnya optimistis.

Lebih lanjut dia menjelaskan, nilai keekonomian solar saat ini adalah Rp 12.000 per liter. Sedangkan satu liter solar sama dengan 1,68 liter LNG. Harga LNG saat ini sekitar US$ 11 per MMbtu dari lapangan Badak. Ditambah dengan ongkos angkut, maka harga eceran LNG di Jawa akan berkisar di angka Rp 8.000 per liter.

Persoalan selanjutnya, menurut Hanung, adalah bagaimana membangun stasiun pengisian LNG di Jawa. Membawa LNG melalui laut ke Jawa bisa diatasi, tetapi tetap perlu dukungan pemerintah agar mengizinkan skid tank LNG dibawa oleh kapal kargo umum. “Ketika kapal kargo umum diizinkan mengangkut skid tank LNG, maka akan mudah membawa LNG ke mana-mana, dan segera bisa kita bangun stasiun pengisian untuk kendaraan,” jelasnya.

Bila pemerintah bisa segera mengeluarkan izin itu, maka Hanung juga optimistis Pertamina akan dapat segera membangun stasiun pengisian LNG untuk kendaraan di pulau Jawa. “Kalau izin itu bisa segera diterbitkan, Pertamina janji pertengahan 2015 akan bangun stasiun pengisian di Jakarta. Sehingga secara teori, semua angkutan di Jabodetabek bisa segera dikonversi ke LNG,” tandas Hanung.

Bahkan, masih menurut Hanung, Pertamina juga akan bisa membangun stasiun pengisian serupa di sepanjang jalur utama sepanjang Pulau Jawa. “Bisa dibangun juga di titik-titik di Jawa, sehingga angkutan umum di Jalur Pantura Jawa bisa selesai dikonversi,” katanya.

Paling tidak, menurut Hanung dibutuhkan dana investasi sekitar Rp 1,6 triliun untuk membangun 150 SPBG yang terintegrasi dengan SPBU. Pengembangan SPBG LNG itu, juga tidak lepas dari adanya dukungan dari pihak PT PGN (Persero).

Dukungan itu berupa rencana kerjasama pembangunan SPBG online, yaitu menggunakan jaringan pipa distribusi yang dibangun bersama-sama oleh PGN dan Pertamina. Sedangkan untuk SPBG LNG yang lokasinya jauh dari jaringan pipa distribusi, akan dikembangkan dengan menggunakan sistem mother-daughter station. “Dengan sistem dan kerjasama tersebut, maka diharapkan penggunaan LNG sebagai bahan bakar kendaraan ini bisa dimassalkan mulai 2016 – 2017. Untuk itu kami mohon dukungan pemerintah agar mempermudah perizinan untuk filling LNG, aturan penggunaan skid tank yang boleh diangkut oleh kapal umum, setelah itu bangun kapal tanker LNG kecil, ship to ship masuk ke pelabuhan Semarang dan Surabaya,” harapnya. (bst)