Pertamina Akhirnya Bersuara Tentang Mafia Migas

 

Pertamina Akhirnya Bersuara Tentang Mafia Migas

Pertamina akhirnya bersuara tentang isu mafia Migas yang menghangat akhir-akhir ini. Soal ini memang menjadi perhatian banyak pihak  bahkan menjadi isu utama pada Pemilihan Presiden, Juli 2014 lalu. Bahkan, Presiden  Terpilih Joko Widodo mengaku siap berantas mafia migas.

Praktek mafia migas ini terjadi dalam proses pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diimpor dari Singapura, seperti  kontrak pembelian jangka pendek dan melalui calo. Vice Presiden Corporate PT Pertamina (Persero), Ali Mundakir mengatakan, Pertamina tidak bisa mengatur pembelian dengan kontrak jangka panjang untuk membeli bahan bakar minyak (BBM). Pasalnya tidak ada perusahaan penjual minyak yang mau melakukan hal tersebut.

“Kalau teman-teman sendiri yang punya minyak, mau tidak saya long term kontrak. Kita mindsetnya jangan pikir semua yang punya minyak bisa kami atur. Katakanlah yang punya minyak ini, mau tidak ya udah saya booking teruslah. Mau tidak?,” kata Ali di Jakarta, Senin, (6/10/2014).

Ali mengungkapkan, kondisi serupa sebenarnya juga dilakukan Indonesia dalam menjual gas alam cair (Liquid Natural Gas /LNG) Tangguh ke Fujian China. “Kita saja jual gas tangguh, di kontrak jangka panjang minta direnegosiasi kan. Nah berpikirnya mesti seperti itu. Berpikir kita yang punya minyak. Jangan hanya berpikir kita ini pembeli tapi seolah bisa mengatur semuanya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, jika mafia migas dituding beroperasi pada penjualan minyak melalui pihak ketiga, Ali menampik hal tersebut. Pasalnya, sejak 2012 Pertamina melalui anak usahanya  Pertamina Energy Trading Ltd (Petral) sudah tidak lagi membeli langsung ke Perusahaan Minyak Nasional (National Oil Company/NOC) yang kilangnya memproduksi minyak. “Itu adalah bentuk keseriusan Pertamina untuk meningkatkan dari pemerintah,” pungkasnya. (lp6/ram)