Persediaan Obat di Rutan Medaeng Menipis

 

Persediaan Obat di Rutan Medaeng Menipis

Sejak awal 2014, Rumah Tahanan (Rutan) Surabaya Klas I di Medaeng dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Surabaya Klas I di Porong tak lagi mendapatkan jatah obat-obatan dari pemerintah. Kini di bulan April, persediaan obat yang berada di klinik Rutan Medaeng hanya berkisar 20 persen dan di Lapas Surabaya berkisar 25 persen saja.

Kepala Divisi Pemasyarakatan (Kadivpas)  Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Jatim I Dewa Putu Gede membenarkan bahwa terjadi krisis obat-obatan di wilayahnya.

“Stok obat habis tidak hanya di Rutan Medaeng dan Lapas Porong. Tapi ini juga menimpa seluruh rutan dan lapas di Indonesia,” tegasnya, Rabu (23/4/2014).

Menurut dia, kekurangan obat ini dikarenakan anggaran dari negara yang belum turun. Bisa juga  dampak dari anggaran yang dipakai dulu dalam pemilihan legislatif kemarin.

“Jadi anggaran obat belum turun, tapi kami sudah mengajukan anggarannya sejak Februari kemarin. Semoga saja ada tanggapan secepatnya,” ucap dia.

Pihaknya kini terus berupaya melakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan agar dana dari APBN segera dicairkan karena kebutuhan obat-obatan yang menurutnya sangat penting.

Juga pihaknya telah mengambil langkah untuk mengajukan hibah obat-obatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi maupun Rumah Sakit Provinsi serta puskesmas-puskesmas terdekat rutan/lapas agar memberikan bantuan.

“Kami meminta puskesmas terdekat untuk datang ke rutan atau lapas. Langkah ini dilakukan sementara sambil menunggu anggaran dari pusat turun,” ucapnya.

Untuk jumlah tahanan sendiri, di rutan Medaeng diketahui ada 1607 narapidana (napi) dan tahanan. Sedang di Lapas Surabaya jumlah napi dan tahanan berjumlah 1.072. 

“Berbagai cara kami lakukan agar tetap terjamin obat-obatan dengan dokternya juga. Bila tidak mengatasi maka akan kami kirim tahanan atau napi ke rumah sakit pemerintah misalnya di Rumah Sakit dr Sutomo,” jlentrehnya.

Menurut dr Arifin yang bertugas di Rutan Klas I Medaeng saat ditemui di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, obat yang berada di kliniknya hampir habis.

“Iya persediaan obat di klinik Medaeng menipis, belum ada kiriman dari pemerintah sejak Januari,” kata Arifin.

Kata dia, ada beberapa obat yang memang telah habis sama sekali sehingga jika ada narapidana yang sedang sakit terpaksa diberikan obat-obatan yang masih ada dan seadanya saja. “Untungnya yang sakit juga tidak dengan penyakit yang parah,” cetus dia.(wh)