Perputaran Uang dari Bisnis Narkoba Capai Rp 100 Triliun

Perputaran Uang dari Bisnis Narkoba Capai Rp 100 Triliun

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dan Kepala BNN Kota Surabaya AKBP Suparti dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (22/9/2017). foto:arya wiraraja/enciety,co

Ancaman narkoba di Indonesia makin mengkhawatirkan. Hingga awal tahun 2017 ini, ada sekitar 5 juta orang berusia di bawah 30 tahun terkena pengaruh zat berbahaya tersebut. Celakanya, dari 5 juta pengguna zat berbahaya itu adalah anak-anak muda berusia di bawah 15 tahun. Perputaran uang dalam bisnis narkoba mencapai Rp 100 triliun. Ada sekitar Rp 63 triliun uang negara yang dirugikan.

Hal itu mengemuka dalam acara acara Perspective Radio Suara Surabaya, Jumat (22/9/2017). Acara yang dipandu Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya itu menghadirkan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Surabaya AKBP Suparti.

“Becermin dari data tersebut, kebanyakan para pengguna zat berbahaya tersebut adalah mereka yang masih dalam usia produktif. Terlebih, dari angka 5 juta pengguna narkoba itu yang masih berusia di bawah 15 tahun atau anak usia sekolah. Hal ini pertanda jika ada banyak hal yang tidak semestinya terjadi,” ujar Kresnayana.

Di Indonesia, kata Kresnayana, sampai saat ini narkoba yang paling banyak digunakan adalah sabu-sabu, jumlahnya lebih 50 persen. Selebihnya, 8 persen pengguna ekstasi, 10 persen pemakai ganja, dan lain sebagainya.

Menurut Kresnayana, ada beberapa faktor yang menyebabkan anak-anak banyak mengonsumsi narkoba. Di antaranya pengaruh lingkungan pergaulan, lingkungan rumah, dan lingkungan sekolah.

“Anak di bawah 15 tahun yang mengonsumsi narkoba tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Karena pada usia tersebut anak mengalami perkembangan dan kondisi psikologisnya masih labil,” tandas pakar statistik ITS tersebut.

Seharusnya, imbuh dia, lingkungan sekolah dan rumah dapat mengenalkan akan bahaya narkoba. Selain itu, sudah menjadi kewajiban bagi orang-orang yang berada di sekolah dan tempat tinggal si anak mengawasi pola tumbuh kembang anak.

“Anak pada usia dibawah 15 tahun pasti memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi. Sudah menjadi kewajiban kita dapat mengawasi pola perkembangan anak,” ungkap dia.

Kresnayana juga menjelaskan, ketika si anak sudah kecanduan narkoba pada usia 15 tahun, ke depan keadaan psikisnya bakal sangat sulit untuk dapat kembali normal.

“Seperti informasi yang saya dapatkan dari beberapa dokter ahli, mereka yang kecanduan narkoba di bawah 15 tahun bakal sangat sulit sekali untuk lepas dari kebiasaan mengonsumsi narkoba,” terang dia.

Selain merusak generasi muda, bahaya narkoba ini bahayanya menyerupai serangan teroris. Demikian karena korbannya sudah lebih dari 5 juta orang saat ini.

“Untuk itu, kita harus sama-sama sadar dan menjaga generasi muda bangsa ini ke depan,” pungkas Kresnayana. (wh)