Pernikahan Beda Etnis Bangun Karakter Lebih Baik

 

Pernikahan Beda Etnis Bangun Karakter Lebih Baik
Emilia Stephanie Handoko.

Pernikahan beda etnis justru membangun karakter masing-masing pasangan menjadi lebih baik lagi. Mereka bisa belajar untuk saling toleransi, saling pengertian satu dan lainnya.

“Ternyata ada sisi positif yang cukup bagus dari perbedaan etnis tersebut,” ujar Emilia Stephanie Handoko, mahasiswa program studi Sastra Tionghoa Universitas Kristen Petra, yang berhasil meraih IPK 3,91 dan menjadi satu di antara 195 wisudawan Cumlaude Strata 1. Emilia akan mengikuti wisuda ke 66 di Auditorium UK Petra Surabaya pada 29-30 Agustus 2014 mendatang.

Dalam skripsi berjudul Interaksi Sosial Pasangan Jawa-Tionghoa Dalam Pernikahan Beda Etnis di Surabaya, Emilia menemukan data bahwa persoalan paling krusial dan selalu muncul lebih pada keluarga pihak perempuan, sehubungan dengan doktrin yang disampaikan oleh orangtua.

“Justru saya merasa larangan-larangan yang disampaikan orangtua terkait dengan pernikahan atau memilih pasangan, membulatkan tekad untuk membuat penelitian bagi skripsi yang akan saya buat ketika itu,” cerita Emilia Stephanie Handoko kepada wartawan di Surabaya, Rabu (27/8/2014).

Skripsi yang dibuat Emilia Stephanie Handoko tersebut terkait doktrin orang tua yang melarang menikah dengan pasangan yang bukan dari etnis yang sama.

Emilia menjadikan doktrin tersebut objek penelitian. Mulai dari perkembangan sosial, masyarakat yang semakin pesat, semakin menafikan sekat-sekat perbedaan yang dulu kokoh membatasi etnis satu dengan lainnya. Sehingga memunculkan doktrin sesat yang sepertinya tidak lagi lazim dimaknai, diikuti bahkan diterapkan di zaman ini. Kata dia, dari fenomena itu justru ada temuan lain yang ternyata sangat luar biasa. (wh)