Permintaan Semen Masih Lesu

semen

Selama dua bulan pertama tahun 2015 ini permintaan semen cenderung lemah bahkan bulan lalu turun dibandingkan Februari 2014. Kondisi ini diperkirakan berlangsung sampai akhir Maret 2015. Ketua Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengatakan permintaan pada bulan lalu menyusut 8,7 persen secara year on year atau terhadap Februari 2014. Realisasi demand selama bulan kedua tahun ini hanya 4,13 juta ton. “Permintaan semen jatuh bebas, Februari tahun lalu mencapai 4,52 juta ton di luar semen impor,” terangnya.

Penyebab penurunan permintaan pada bulan lalu disinyalir tak ubahnya seperti pada Januari. Faktor cuaca serta perkembangan proyek infrastruktur dirasakan berpengaruh besar terhadap perkembangan penjualan semen.
Curah hujan selama Februari relatif tinggi sehingga sedikit banyak menghambat proses distribusi karena banyak titik banjir dan jalan rusak. Di samping itu pembangunan infrastruktur juga belum gencar, selain itu juga ada pengetatan kredit perumahan oleh bank.

Kondisi tersebut menahan perkembangan kredit perumahan yang akhirnya proyek properti ikut direm mengikuti permintaan. Proyek tertahan otomatis kebutuhan semen juga terkena imbas. “Curah hujan lebih besar, infrastruktur belum muliu, komoditas perkebunan dan tambang belum bagus, dan ada pengetatan kredit perumahan dari perbankan,” ucap Widodo.

ASI mencatat permintaan semen yang meningkat hanya terjadi di Maluku dan Papua sebesar 3,3 persen menjadi 95.286 ton. Wilayah lain, yaitu Sumatra turun 10,7 persen menjadi 861.224 ton dan Jawa usut 7,7 persen ke level 2,28 juta ton. Adapun di Kalimantan merosot 8,7 persen ke kisaran 320.592 ton, Sulawesi minus 8,5 persen menjadi 312.321 ton. Penurunan permintaan terparah terjadi di wilayah Bali dan Nusa Tenggara mencapai 14,1 persen menjadi 264.313 ton.”Mungkin pada bulan ini tidak seburuk Februari karena curah hujan mulai turun dan sesuai instruksi presiden, sebagian besar pembangunan infrasturktur dimulai,” kata Widodo.

Produsen semen optimistis penyusutan volume permintaan berlaku temporer. Pada April 2015 diramalkan penjualan akan membaik terdorong realisasi berbagai proyek. Beberapa pengerjaan infrastruktur yang diyakini akan mendongkrak permintaan ialah properti, pabrik pengolahan dan pemurnian hasil tambang, dan pembangkit listrik. (bns)