Permintaan Produk Vitamin C Naik hingga 10 Kali Lipat

Permintaan Produk Vitamin C Naik hingga 10 Kali Lipat

Philips Pangestu. foto: arya wiraraja/enciety.co

Ketua Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GPFI) Jatim Philips Pangestu membantah jika industri farmasi naik karena terimbas pandemi.

“Hal itu harus dikoreksi lagi. Mengingat, di masa pandemi seperti sekarang ini masyarakat tidak berani berobat ke dokter jika tidak benar-benar sakit. Artinya, permintaan obat menurun. Tapi memang untuk permintaan vitamin C yang meningkat,” cetus dia dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (5/6/2020).

Kata Pangestu, di tengah pandemi Covid-19 ini, dunia industri farmasi dapat memetik hasil positif. Terutama pada Maret, April dan Mei 2020. Di bulan-bulan tersebut, produk farmasi terutama permintaan produk vitamin C naik hingga 6-10 kali lipat dari keadaan sebelumnya.

“Hal ini terjadi dikarenakan tidak hanya karena pandemi, tetapi juga masyarakat persiapan memasuki bulan Puasa. Namun, setelah masuk pada bulan Mei, jumlah permintaan untuk produk vitamin C ini kembali normal. Mungkin, pada bulan Mei masyarakat lebih memilih membeli kebutuhan pokok seperti beras dan lain sebagainya,” tegasnya.

Dalam acara yang dipandu  Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult itu, Pangestu optimistis jika dunia industri farmasi bakal bangkit kembali di semester kedua tahun 2020 ini.

“Masuk semester ke dua di 2020 kami bakal naik lagi. Mengingat program e-catalouge yang digagas oleh pemerintah pusat bakal ditunda. Jadi di semester kedua kami akan mengisi kekosongan ini,” terangnya.

Sebelum masa pandemi, pasar untuk produk vitamin C ini sangat kecil sekali. Pangestu mencontohkan, jika penjualan rata-rata vitamin C ini hanya 10 persen dari total penjualan obat di industri farmasi.

“Bahan baku vitamin C ini 99 persen bahannya masih impor dari China, dari Eropa, dan lain sebagainnya. Jadi selama Bulan Maret, April dan Mei ini saya sangat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pasar,” terangnya. (wh)